Logo Bloomberg Technoz

Obligasi Tenor Pendek Tersengat Aksi Jual, Bebani Gerak Rupiah

Tim Riset Bloomberg Technoz
21 September 2026 10:26

Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)
Ilustrasi Pasar Obligasi (Diolah)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar obligasi Indonesia mulai tersengat aksi jual yang terjadi pada obligasi global, usai bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan pekan lalu. Hal ini membebani rupiah di pasar spot yang bergerak melemah 0,24% ke Rp17.785/US$ pada 09:43 WIB. 

Melansir data Bloomberg, yield obligasi tenor pendek mulai kembali naik. Tenor 2 tahun naik 6,3 basis poin (bps) menjadi 6,86%, disusul tenor 1 tahun naik 2,4 bps jadi 6,83%. 

Namun, obligasi tenor acuan 10 tahun masih mencatat penurunan 2,1 bps di posisi 7,1%, sedangkan tenor 9 tahun turun 6,3 bps ke 7,11% dan tenor 8 tahun 5,1 bps ke 7,09%. 

Pergerakan yield di pasar obligasi Indonesia pada Senin (21/9/2026), 09.35 WIB (Bloomberg)

Sejalan dengan tren bearsih ini, yield obligasi berdenominasi dolar AS (INDON) juga ikut naik 1,5 bps ke 5,87%, tersengat pergerakan yield US Treasury. US Treasury tenor acuan 10 tahun kembali terdongkrak 6,6 bps ke 4,99% setelah pekan lalu sempat melandai.

Kenaikan ini tak cuma terjadi pada obligasi pemerintah Indonesia. Obligasi pemerintah Australia tenor 10 tahun naik 3 bps ke 5,29%. Begitu juga Selandia Baru naik 2,4 bps ke 4,94%, Perancis naik 12,2 bps ke 4,56%, Italia naik 9,5 bps ke 4,43%, dan  China naik 0,4 bps ke 1,67%.