Kenaikan yield itu meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan mendorong investor jadi lebih selektif terhadap aset pasar negara berkembang. Meski begitu, posisi rupiah masih ditopang oleh ekspektasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan BI Rate di 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September. Stabilitas rupiah sepanjang September jadi salah satu alasan bagi pasar untuk memperkirakan tidak adanya perubahan suku bunga.
Sementara, di pasar obligasi domestik yield tenor 1 tahun berbalik arah pada 09:05 WIB dan naik 6,3 bps menjadi 6,87% dari posisi pagi tadi 6,81%. Selebihnya, tenor-tenor lainnya masih mencatat aksi beli, termasuk tenor acuan 10 tahun turun 1,8 bps ke 7,1% dan tenor 6 tahun turun 6,6 bps ke 7,04%.
Selain arah BI Rate, perhatian pelaku pasar pekan ini juga tertuju pada kebijakan teknis dari keputusan pemerintah membentuk bursa komoditas untuk mengendalikan harga. Kebijakan selanjutkan diatur oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut akan menentukan produk apa saja yang diperdagangkan, serta tahapan perdagangannya, lewat aturan tersendiri. Beberapa hal yang dipertimbangkan OJK di antaranya adalah kesiapan infrastruktur, stabilitas keuangan, dan integritas pasar.
Dengan sentimen dan faktor domestik serta eksternal yang ada, rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.750-17.800/US$ hari ini, dengan tren bearish. Proyeksi paling pesimistis rupiah berpotensi melemah hingga ke Rp17.850/US$, terlebih jika pergerakan yield di pasar obligasi berbalik arah.
(riset/aji)




























