Logo Bloomberg Technoz

Kepemilikan investor asing di obligasi pemerintah Indonesia juga tercatat mulai menyusut sebesar US$747,4 juta per Selasa (15/9/2026). Sehari kemudian, investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih di pasar saham Indonesia sebesar US$35,3 juta, dan menandakan aksi jual selama enam hari beruntun. 

Arus modal keluar ini menguat terdorong oleh langkah hawkish sejumlah bank sentral utama. Pekan lalu, bank sentral Uni Eropa sudah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 bps menjadi 2,5%. Dini hari tadi, giliran The Fed yang mengambil langkah serupa.

Besok, sepertinya bank sentral Jepang juga akan mengambil kebijakan yang sama. Pasar memperkirakan suku bunga acuan di Negeri Matahari Terbit naik 25 bps ke 1,25%. Ekspektasi itu telah mendorong penguatan bagi yen pada perdagangan hari ini sebesar 0,35%. 

Tantangan BI

Di tengah sikap hawkish sejumlah bank sentral utama, agaknya dapat memengaruhi kalkulasi Bank Indonesia (BI) yang akan memutuskan BI Rate pekan depan. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi membutuhkan kondisi moneter yang longgar, agar dapat menurunkan biaya kredit dan mendukung konsumsi serta investasi. Namubn di sisi lain, jika tekanan terhadap rupiah menguat dan arus modal keluar semakin deras, maka ruang pelonggaran bagi BI itu jadi terbatas. 

Apalagi, inflasi Agustus terakselerasi menjadi 3,19% yoy dari posisi bulan sebelumnya 2,88%. Namun, respons BI tak cuma bergantung pada perkembangan inflasi domestik. Stabilitas nilai tukar, arus modal, dan kondisi pasar obligasi akan menjadi pertimbangan putusan pekan depan. 

Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, menilai keputusan Federal Reserve untuk memulai siklus pengetatan kebijakan moneter akan berdampak kepada Indonesia. "Menurut kami, ada peluang BI menaikkan suku bunga mulai kuartal IV-2026," sebut Lionel.

Akan tetapi, menurutnya posisi rupiah yang relatif stabil di kisaran Rp17.500-17.700/US$ pada akhir kuartal III-2026, setidaknya masih memberi ruang bagi BI untuk menahan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September. Namun pada November atau Desember, sepertinya kenaikan BI Rate sudah sulit dihindari.

(dsp/aji)

No more pages