Pengguna bisa melihat informasi kualitas udara langsung melalui tampilan peta. Fitur tersebut dapat menjadi pilihan praktis karena tidak membutuhkan aplikasi pemantau kualitas udara tambahan.
Cara mengeceknya melalui Google Maps adalah sebagai berikut:
-
Buka aplikasi Google Maps di HP.
-
Pastikan wilayah yang ingin diperiksa terlihat pada peta.
-
Ketuk ikon Layers atau Lapisan di bagian kanan atas.
-
Pilih opsi Air Quality atau Kualitas Udara.
-
Informasi kualitas udara akan ditampilkan pada area yang tersedia.
Google menjelaskan bahwa informasi kualitas udara pada Maps dapat berasal dari stasiun pemantauan maupun model kualitas udara. Kondisi udara juga dapat berbeda dalam jarak yang relatif dekat.
Artinya, angka yang ditampilkan Google Maps tidak selalu menggambarkan kondisi udara secara persis di titik tempat pengguna berada. Informasi tersebut lebih tepat digunakan sebagai gambaran kondisi kualitas udara di wilayah yang ditampilkan.
Fitur Air Quality juga dapat diakses melalui Google Maps versi komputer. Caranya serupa, yaitu membuka Google Maps, memilih Layers, kemudian mencari informasi Air quality pada detail peta.
2. Menggunakan Aplikasi IQAir AirVisual
Pilihan berikutnya adalah IQAir AirVisual. Aplikasi ini secara khusus menyediakan informasi kualitas udara sehingga pengguna dapat memantau kondisi udara di lokasi tertentu maupun mencari kota lain.
Setelah aplikasi dibuka, pengguna dapat mengaktifkan izin lokasi apabila diperlukan. Selanjutnya, kondisi udara berdasarkan lokasi dapat ditampilkan pada layar.
Langkah mengeceknya antara lain:
-
Unduh dan buka aplikasi IQAir AirVisual.
-
Aktifkan izin lokasi atau GPS jika diperlukan.
-
Pilih lokasi yang ingin dipantau.
-
Periksa nilai AQI dan informasi polutan yang tersedia.
-
Gunakan fitur peta untuk mencari kondisi udara di wilayah lain.
IQAir juga menyediakan peta kualitas udara melalui layanan online. Pengguna dapat melihat informasi AQI sekaligus konsentrasi PM2.5 di berbagai wilayah.
Layanan tersebut dapat digunakan ketika pengguna ingin mendapatkan informasi kualitas udara yang lebih spesifik dibandingkan sekadar melihat kondisi suatu wilayah melalui aplikasi peta.
3. Cek Data PM2.5 dari BMKG
Masyarakat Indonesia juga dapat memanfaatkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG. Layanan ini menyediakan informasi konsentrasi PM2.5 di sejumlah wilayah Indonesia.
Berbeda dengan layanan yang berfokus pada AQI, informasi BMKG dapat membantu pengguna melihat konsentrasi partikulat secara langsung. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk memahami kategori kualitas udara di wilayah yang dipantau.
Cara mengaksesnya cukup mudah:
-
Buka situs pemantauan kualitas udara BMKG.
-
Cari atau pilih kota yang ingin diperiksa.
-
Perhatikan nilai konsentrasi PM2.5.
-
Cek kategori kualitas udara yang ditampilkan.
Data BMKG bisa menjadi salah satu rujukan bagi masyarakat yang ingin mengetahui kondisi partikulat di wilayah Indonesia. Pengguna juga dapat membandingkannya dengan informasi dari layanan lain.
Mengenal PM2.5 dan AQI
Sebelum membaca informasi kualitas udara, pengguna perlu memahami beberapa istilah yang sering muncul. Salah satunya adalah PM2.5, yaitu partikel udara dengan ukuran sangat kecil, berdiameter hingga 2,5 mikrometer.
PM2.5 menjadi salah satu parameter penting dalam pemantauan kualitas udara. Semakin tinggi konsentrasinya, kondisi udara yang terukur menunjukkan tingkat pencemaran partikulat yang semakin tinggi.
Dalam informasi kualitas udara BMKG, konsentrasi PM2.5 dikelompokkan berdasarkan kategori berikut:
-
0 sampai 15,5 µg/m³: Baik
-
15,6 sampai 55,4 µg/m³: Sedang
-
55,5 sampai 150,4 µg/m³: Tidak Sehat
-
150,5 sampai 250,4 µg/m³: Sangat Tidak Sehat
-
Lebih dari 250,5 µg/m³: Berbahaya
Kategori tersebut membantu masyarakat memahami kondisi udara tanpa harus membaca angka konsentrasi partikulat secara mentah.
Selain PM2.5, pengguna juga mungkin menemukan istilah AQI atau Air Quality Index. AQI merupakan indeks yang digunakan untuk menyederhanakan informasi mengenai tingkat pencemaran udara agar lebih mudah dipahami.
Meski begitu, pengguna mungkin menemukan angka AQI yang berbeda ketika membandingkan beberapa layanan. Perbedaan tersebut tidak selalu berarti salah satu layanan mengalami kesalahan.
Google menjelaskan bahwa setiap negara atau penyedia layanan dapat menggunakan metode, jenis polutan, periode pengukuran, serta sumber data yang berbeda. Karena itu, angka AQI dari satu layanan tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung dengan angka dari layanan lainnya.
Pilih Layanan Sesuai Kebutuhan
Masing-masing layanan memiliki cara penyajian informasi yang berbeda. Karena itu, pilihan yang digunakan bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Jika hanya ingin mengetahui kondisi udara secara cepat tanpa memasang aplikasi tambahan, Google Maps dapat menjadi pilihan praktis. Informasinya bisa diakses langsung melalui menu Layers pada peta.
Sementara itu, IQAir AirVisual lebih cocok bagi pengguna yang ingin memantau kualitas udara secara khusus. Informasi yang tersedia dapat mencakup AQI, PM2.5, peta polusi, hingga prakiraan kualitas udara di sejumlah lokasi.
Bagi masyarakat yang ingin melihat data partikulat dari sumber pemerintah Indonesia, informasi BMKG dapat digunakan sebagai pembanding. Konsentrasi PM2.5 menjadi salah satu informasi yang dapat diperhatikan ketika memantau kondisi udara.
Pengguna juga sebaiknya tidak terpaku pada satu angka ketika membandingkan berbagai platform. Perbedaan metode pengukuran dan sumber data dapat membuat hasil yang ditampilkan tidak sama.
Pada akhirnya, cara mengecek kualitas udara hari ini melalui HP dapat dilakukan dalam beberapa langkah sederhana. Google Maps menawarkan akses praktis melalui fitur Air Quality, IQAir menyediakan pemantauan kualitas udara yang lebih khusus, sedangkan BMKG dapat menjadi rujukan untuk informasi konsentrasi PM2.5 di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan memantau informasi tersebut secara berkala, masyarakat dapat memperoleh gambaran mengenai kondisi udara sebelum menjalankan aktivitas di luar ruangan. Perubahan kualitas udara juga dapat dipantau dari waktu ke waktu, sehingga informasi yang diperoleh tidak hanya bergantung pada satu kali pengukuran.
Yang tidak kalah penting, perhatikan sumber data dan metode pengukuran ketika menemukan angka yang berbeda antarplatform. Dengan begitu, informasi kualitas udara dapat dibaca secara lebih tepat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
(seo)






























