Volume transaksi IHSG di tengah hari perdagangan sudah tercatat 16,9 miliar saham, dengan nilai transaksi mencapai Rp7,88 triliun. Frekuensi yang terjadi sebanyak 1,12 juta kali diperjualbelikan.
Sebanyak 374 saham mengalami kenaikan, dan ada 234 saham melemah. Sedang 178 saham enggan bergerak.
Sejumlah sector saham menjadi penopang utama IHSG pada perdagangan Sesi I siang hari ini. Saham–saham energi, saham konsumen primer, dan saham perindustrian mencatatkan kenaikan paling tinggi, dengan masing–masing menguat 1,16%, 0,89% dan 0,74%.
Menguatnya IHSG merupakan efek langsung dari kenaikan sejumlah saham big caps. Berikut selengkap diantaranya berdasarkan data Bloomberg, Kamis (17/9/2026).
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyumbang 6,56 poin
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menyumbang 4,91 poin
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menyumbang 3,01 poin
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menyumbang 2,93 poin
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menyumbang 2,65 poin
- PT Astra International Tbk (ASII) menyumbang 2,45 poin
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang 2,21 poin
- PT Petrosea Tbk (PTRO) menyumbang 1,61 poin
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) menyumbang 1,45 poin
- PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menyumbang 1,43 poin
Mengutip riset Panin Sekuritas pada Sesi I, IHSG ditutup menguat 0,42% di level 6.463, atau berbanding terbalik dengan Bursa AS yang ditutup melemah seiring dengan The Fed yang menaikkan suku bunga sebesar 25bps pada pertemuan dini hari tadi, atau kenaikan pertama dalam 3 tahun menjadi 3,75%–4,00%. Terlebih lagi The Fed memberikan sinyal dapat menaikkan kembali suku bunga tahun ini, imbas inflasi yang masih tinggi.
Namun, Panin Sekuritas menyebut, Keputusan The Fed menaikkan suku bunga 25bps sudah relatif priced-in. Selain itu, investor juga masih wait and see mencermati keputusan BoJ yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga.
“Patut dicermati, harga minyak yang lebih rendah juga turut memberikan sentimen positif,” papar Panin dalam catatannya siang hari ini.
Lebih lanjut, Arab Saudi berupaya memulihkan sekitar setengah kapasitas East–West Pipeline dalam beberapa hari dan berpotensi kembali beroperasi penuh dalam 6 minggu. Pemulihan kapasitas pipeline mengurangi risiko gangguan supply minyak global karena jalur tersebut merupakan alternatif untuk menghindari Selat Hormuz, sementara Arab Saudi juga meningkatkan pengiriman crude melalui Hormuz dengan dukungan militer AS.
(fad)




























