Logo Bloomberg Technoz

Arah Rupiah Saat Lapangan Banteng Ganti Nakhoda

Tim Riset Bloomberg Technoz
15 September 2026 08:37

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah spot diperkirakan bergerak lebih konstruktif dalam perdagangan Selasa (15/9/2026). Meski tekanan harga minyak yang melampaui US$100/barel masih terasa, pergantian Menteri Keuangan cukup disambut baik oleh pelaku pasar. 

Di pasar Non-Deliverable Forward,s (NDF) pergerakan rupiah belum banyak berubah dan diperdagangkan di kisaran Rp17.717/US$. Rupiah di luar negeri masih terbebani harga minyak yang bertengger di US$106,96/barel. 

Sementara mata uang Asia bergerak beragam meski mayoritas berada di zona merah. Yen Jepang memimpin pelemahan, bersama dengan dolar Taiwan, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura yang lebih terbatas. Sebaliknya baht Thailand menguat, disusul peso Filipina.  

Pergerakan mata uang Asia. (Bloomberg)

Mahalnya harga minyak dipicu oleh adanya gangguan pasokan akibat kerusakan sejumlah infrastruktur pengiriman, termasuk pipa utama di Arab Saudi. 

Dari sisi  lain, pasar valuta juga mendapat tekanan dari yield US Treasury tenor 10 tahun yang telah menembus 5% untuk kali pertama sejak 2023. Dipicu oleh kekhawatiran inflasi serta tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah dan korporasi terus membengkak.