Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Ditutup di Level Rp17.648/US$

Tim Riset Bloomberg Technoz
14 September 2026 16:21

Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pengunjung menukarkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026) (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah menutup perdagangan Senin (14/9/2026) dengan pelemahan 0,27% ke Rp17.648/US$, seiring kenaikan harga minyak yang persisten. 

Harga minyak Brent masih bertahan tinggi di US$107,9/barel dan menekan mata uang Asia.  Yen Jepang melemah paling tajam, disusul baht Thailand, dolar Singapura, rupiah, peso Filipina, dolar Taiwan, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia. 

Rupiah dan mata uang Asia melemah sore ini. (Bloomberg)

Kenaikan harga minyak disebabkan oleh gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah, menyusul adanya serangan terbaru terhadap pipa minyak Arab Saudi. 


Hal ini menambah kekhawatiran terhadap pasokan minyak. Selain itu, persediaan minyak negara-negara OECD sebenarnya telah turun lebih dari 400 juta barel sejak April. Sementara, cadangan minyak strategis AS juga ikut menyusut 128 juta barel sejak Maret. 

Ditambah, persediaan produk minyak tercatat turun, dari 2,05 miliar barel menjadi 1,8 miliar barel dalam enam bulan terakhir.