Bahkan, di Korea Selatan dan Taiwan, investor asing mencatat penjualan bersih saham masing-masing lebih dari US$3 miliar sepanjang pekan lalu.
Dari dalam negeri, sentimen kenaikan suku bunga AS telah terasa pada lelang surat utang kemarin. Pada lelang surat utang Selasa (15/9/2026), total penawaran yang masuk merosot 7,58%, setara dengan Rp4,99 triliun, menjadi Rp60,96 triliun, dari lelang sebelumnya Rp65,96 triliun (1/9). Begitu juga dengan yield rata-rata tertimbang yang ikut naik. Pada seri FR0111, dengan tenor 10 tahun, yield naik menjadi 7,2% dari 7%.
Kondisi ini juga menunjukkan pasar sedang memperhitungkan konsekuensi dari rezim suku bunga AS yang berpotensi lebih tinggi dan terjadi lebih lama.
"Menurut kami, naiknya suku bunga The Fed bulan ini hanyalah awal dari sebuah rate hike cycle hingga kuartal pertama tahun 2027," kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, dalam catatannya.
Bagi rupiah, masalah ini bisa jadi lebih kompleks. Sebab, Indonesia mau tak mau harus menjaga daya tarik aset domestik kala imbal hasil aset AS makin menarik. Padahal, di saat yang sama, harga minyak justru memperbesar tekanan eksternal.
Langkah The Fed, yang akan memengaruhi gerak rupiah itu, akan menjadi ujian bagi Gubernur Bank Indonesia (BI) baru, Destry Damayanti, yang harus mempertahankan stabilitas rupiah dan pasar keuangan, sekaligus memastikan kondisi moneter tak semakin membebani perekonomian domestik.
BI dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada pekan depan di tanggal 23 September.
(riset)




























