Biaya pengiriman melonjak akibat kombinasi berbagai faktor, sebagian besar berkaitan dengan perang Iran dan langkah spekulatif besar-besaran oleh taipan Korea yang tertutup.
Pendapatan fantastis ini juga sebagian mencerminkan margin kilang minyak yang melonjak drastis; perang di Iran dan Ukraina menyebabkan produksi bahan bakar dunia tidak mencukupi untuk memenuhi permintaan.
Kondisi ini mendorong perusahaan kilang terus membeli dan mengangkut minyak sebanyak mungkin, karena mengolah minyak tersebut menjadi bahan bakar jadi—seperti solar dan bensin—masih menguntungkan bagi mereka.
Pada saat yang sama, jumlah kapal yang mengangkut kargo keluar dari Selat Hormuz menambah waktu tempuh setiap perjalanan kapal tanker, sehingga menyerap pasokan kapal.
Situasi ini diperparah oleh gangguan terhadap aliran minyak Arab Saudi akibat ulah Houthi Yaman, yang memaksa sejumlah kapal menempuh rute pelayaran 30 hari lebih lama dengan memutari benua Afrika.
(bbn)





























