Logo Bloomberg Technoz

"Jejaknya terus bertambah," kata Tiffany Hsu, Analis Earth Insight.

"Data ini jelas [...] industri [biomassa] ini justru mendorong deforestasi yang nyata dan terukur serta berdampak pada masyarakat."

Ekspor ke Jepang Naik

Laporan ini menunjukkan bukti jelas bahwa pelet kayu dari hutan hujan Indonesia yang diekspor ke Jepang terus meningkat.

Berdasarkan catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2025, Jepang berkontribusi hampir 75% dari total ekspor pelet kayu Indonesia.

Permintaan Jepang terhadap pelet kayu juga melonjak tajam. Negara ini mencatat rekor impor pelet kayu sebanyak 8,64 juta ton pada 2025—meningkat 35% dibandingkan 2024—menurut data Global Trade Algorithmic Intelligence Center.

Impor pelet kayu dari Indonesia melonjak lebih dari 500%, dari 66.460 ton pada 2023 menjadi 402.310 ton pada 2025.

"Jepang sudah menjadi salah satu importir pelet kayu terbesar di dunia, dan proyeksi industri menunjukkan bahwa Jepang akan menjadi konsumen pelet kayu terbesar di dunia. Jepang juga telah menjadi pembeli terbesar pelet dari Indonesia," kata Sayoko Iinuma, Aktivis Hutan, Global Environmental Forum (GEF) Jepang.

"GEF Jepang percaya bahwa perusahaan dan lembaga keuangan Jepang memiliki tanggung jawab untuk mengetahui asal usul biomassa yang mereka gunakan dan menghentikan pembelian dari pemasok yang terkait dengan deforestasi dan pelanggaran hak-hak masyarakat adat."

Di Jepang, bioenergi menyumbang porsi kecil namun terus meningkat dalam pembangkitan listrik—kurang dari 6% pada tahun 2024, menurut Institute for Sustainable Energy Policies.

Sementara di Indonesia, meski saat ini hanya ada sedikit pabrik biomassa yang beroperasi di Indonesia, ada tren peningkatan izin konsesi biomassa.

Direktur Eksekutif Auriga Nusantara, Timer Manurung mengungkap setidaknya 45 konsesi telah diberikan, yang mencakup lebih dari 750.000 hektare hutan alam.

Masyarakat adat yang tinggal di wilayah konsesi dan bergantung pada hutan akan terdampak, termasuk komunitas Polahi yang hidup terisolasi.

Masyarakat Polahi hidup di wilayah konsesi timur yang terkait dengan fasilitas pelet kayu PT Gorontalo Panel Lestari, area yang mencakup lebih dari 24.500 hektare hutan lembap tropis. Wilayah ini menunjukkan percepatan deforestasi.

"Hal ini akan melenyapkan sepenuhnya tutupan alam yang menjadi sumber penghidupan sekaligus bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat Polahi," katanya.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa meluasnya deforestasi akibat produksi biomassa bakal berdampak pada hutan yang masih utuh, yang berfungsi sebagai habitat penting bagi spesies terancam punah seperti tarsius, serta kerbau dan babi endemik.

Bioenergi: Solusi Iklim Palsu

Biomassa hutan merupakan sumber energi terbarukan didasarkan pada aturan penghitungan karbon yang menyembunyikan total emisi sebenarnya.

Sebab, pembangkit listrik berbahan bakar biomassa ternyata mengeluarkan emisi CO₂ 50%–60% lebih banyak per megawatt-hour dibandingkan pembangkit batu bara modern.

Lima tahun lalu, lebih dari 500 ilmuwan dan ekonom memprediksi bahwa kebijakan iklim untuk meningkatkan energi terbarukan dengan memperlakukan biomassa sebagai sumber energi netral karbon "menciptakan model yang mendorong negara-negara tropis menebang lebih banyak hutan mereka."

"Hutan-hutan di Indonesia, yang menyimpan sejumlah besar karbon, mengatur pola curah hujan regional, dan mendukung mata pencaharian, sistem pangan, dan tradisi budaya jutaan masyarakat adat dan komunitas lokal, dibakar sebagai pelet kayu, terutama untuk Jepang dan Korea Selatan," bunyi kajian tersebut.

"Kebijakan jangka pendek untuk membakar pelet kayu dari habitat hutan dan tanah air yang vital akan menimbulkan konsekuensi yang luas bagi stabilitas iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan beberapa ekosistem paling tak tergantikan di planet ini."

(ros)

No more pages