Logo Bloomberg Technoz

Kebutuhan Bioetanol Diproyeksi Naik hingga 1,47 Juta Kl pada 2030

Sabrina Mulia Rhamadanty
08 September 2026 19:40

Ilustrasi bahan bakar nabati (BBN) bioetanol./Bloomberg-Si Barber
Ilustrasi bahan bakar nabati (BBN) bioetanol./Bloomberg-Si Barber

Bloomberg Technoz, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan kebutuhan bioetanol untuk mendukung penerapan mandatori E5 (bioetanol 5%), E10 (10%), dan E20 (20%) akan melonjak hingga 1,47 juta kiloliter (kl) pada 2030. 

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi mengatakan langkah ini disiapkan untuk mendukung perluasan penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) pada bensin non-Public Service Obligation (non-PSO) atau bensin nonsubsidi.

"Kalau kita berhitung 5%-nya, berarti 2026 itu membutuhkan 333 ribu kiloliter. Kita berhitung juga 10% di tahun 2027, maka kita perlu 681 ribu kiloliter, dan akan naik 20% di tahun 2028 itu menjadi 1,39 juta kiloliter dan seterusnya, sampai dengan 2030 di angka 1,47 juta kiloliter," tutur Eniya dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (8/9/2026).


Lonjakan kebutuhan bioetanol tersebut dipicu oleh proyeksi peningkatan konsumsi bensin nonsubsidi secara nasional yang terus tumbuh setiap tahun.

"Ini karena demand bensin untuk non-PSO di tahun 2026 itu sekitar 6,65 juta kiloliter, dan akan naik gradually sampai dengan 2030 mencapai 7,35 juta kiloliter," ujar Eniya.