Logo Bloomberg Technoz

Pernyataan Trump bahwa eskalasi perang tersebut "tidak akan terlalu lama", membalikkan sentimen pasar bahwa ketegangan yang sebelumnya terjadi di Selat Hormuz akan kembali mereda. 

Selain itu, dari sisi domestik rupiah mendapat dukungan dari pasar surat utang yang diperkirakan tak terpengaruh oleh aksi jual yang terjadi di pasar obligasi global. 

menurut Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson, aksi jual besar-besaran ini belum banyak memengaruhi pasar surat utang pemerintah Indonesia. 

Ia menilai, selisih yield antara obligasi pemerintah Indonesia dan US Treasury saat ini sekitar 230 basis poin (bps) untuk tenor 2 bulan, 5 tahun, dan 10 tahun. Angka tersebut sekitar 40 bps lebih lebar dibandingkan awal tahun. 

"Yield Indonesia yang lebih tinggi memberikan kompensasi yang lebih besar terhadap risiko. Pada saat yang sama, rekam jejak Indonesia dalam menjaga inflasi dan defisit pemerintah pada level rendah menunjukkan bahwa risiko memegang obligasi pemerintah Indonesia sebenarnya lebih rendah jika dihitung dalam basis yang telah dilindung nilai terhadap risiko mata uang," sebut Henderson dalam catatannya. 

Sementara, dari sisi fundamental Indonesia masih memiliki bantalan defisit fiskal yang relatif aman yakni di bawah 3%. Berbeda dengan AS yang memiliki defisit anggaran mencapai 5,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025. 

(dsp)

No more pages