Harga Pertamax Ditahan Saat Turbo & Green Naik, Apa Risikonya?
Azura Yumna Ramadani Purnama
03 September 2026 09:30

Bloomberg Technoz, Jakarta – Ekonom khawatir terdapat peningkatan konsumsi Jenis Bahan Bakar Umum (JBU) Pertamax pada bulan ini gegara harganya ditahan di bawah nilai keekonomian saat bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi lainnya mengalami kenaikan.
Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menyebut migrasi besar-besaran ke Pertamax akan membuat beban yang ditanggung oleh PT Pertamina Patra Niaga (PPN) makin besar, sebab harga jualnya ditahan di Rp15.950/liter alias tidak mencerminkan nilai riil bensin RON 92.
Josua memperkirakan harga keekonomian bensin RON 92 saat ini sudah menembus rentang Rp18.700—Rp19.300/liter dengan asumsi harga minyak mentah MOPS US$108—US$112/barel, rata-rata kurs Rp17.800/US$, serta biaya komponen tetap Rp1.800.
Jika dibandingkan dengan harga Pertamax saat ini, sebesar Rp15.950/liter, terdapat selisih sekitar Rp2.000—Rp3.300/liter dan perkiraan mediannya sekitar Rp2.500—Rp3.000/liter.
“Selisih harga [Pertamax] yang makin lebar dengan Pertamax Turbo dapat mendorong perpindahan konsumen ke Pertamax, sehingga volume produk yang harganya ditahan makin besar dan beban [yang harus ditanggung Pertamina] membengkak,” kata Josua ketika dihubungi, Rabu (2/9/2026).






























