Kemarin, rupiah di spot ditutup melemah 0,19% ke Rp17.760/US$ kala aksi jual terjadi di pasar obligasi global.
Dari kawasan, pagi ini yen melemah 0,09%, disusul won Korea Selatan 0,06%, dan dolar Singapura 0,01%. Hanya yen offshore yang menguat sangat terbatas 0,01%.
Tekanan eksternal juga datang dari selloff yang terjadi di pasar obligasi global. Yield obligasi di Jerman dan Prancis naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun naik mendekati 4,8%, tertinggi sejak Januari 2025. Begitu juga dengan yield obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh 3% untuk kali pertama sejak 1996.
Aksi jual ini juga merambat ke pasar negara berkembang. Namun begitu, menurut Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson, aksi jual besar-besaran ini belum banyak memengaruhi pasar surat utang pemerintah Indonesia.
Ia menilai, selisih yield antara obligasi pemerintah Indonesia dan US Treasury saat ini sekitar 230 basis poin (bps) untuk tenor 2 bulan, 5 tahun, dan 10 tahun. Angka tersebut sekitar 40 bps lebih lebar dibandingkan awal tahun.
"Yield Indonesia yang lebih tinggi memberikan kompensasi yang lebih besar terhadap risiko. Pada saat yang sama, rekam jejak Indonesia dalam menjaga inflasi dan defisit pemerintah pada level rendah menunjukkan bahwa risiko memegang obligasi pemerintah Indonesia sebenarnya lebih rendah jika dihitung dalam basis yang telah dilindung nilai terhadap risiko mata uang," sebut Henderson dalam catatannya.
Posisi fundamental ini berbeda dengan AS yang memiliki defisit anggaran mencapai 5,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025. Bloomberg Economics memperkirakan defisit fiskal AS akan melampaui 6% PDB pada 2026-2026. Sementara, defisit anggaran Indonesia diperkirakan tetap terjaga dalam batas 3% PDB.
Hal ini tergambar dari arus masuk bersih yang masih terjadi di pasar obligasi domestik. Investor masih tercatat masuk ke pasar surat utang sebesar US$1,3 miliar pada Juni, lalu US$400 juta pada juli dan US$800 juta di bulan Agustus.
Akan tetapi, pelaku pasar akan mencermati defisit fiskal Indonesia. Walaupun diperkirakan relatif aman, kenaikan harga minyak masih berpotensi memperlebar defisit.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI) Josua Pardede menilai, harga minyak yang bertahan tinggi dapat mendorong rupiah kembali menguji Rp18.100–18.300/US$.
Sementara, Managing Director Research Samuel Sekuritas, Harry Su menilai rupiah akan bergerak di rentang Rp17.600-18.150/US$ dengan kecenderungan melemah. "Lonjakan harga minyak mentah Brent yang kini menembus US$95/barel menjadi katalis negatif utama yang memicu tekanan besar terhadap rupiah," kata Harry.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah masih ada risiko melemah, meski relatif terbatas. Support terdekat menuju level Rp17.780/US$ dengan target pelemahan lanjutan akan tertahan di Rp17.800/US$.
Apabila kembali jebol kedua support tersebut, maka mata uang Nusantara kemungkinan akan mengetes level Rp17.850/US$ sebagai support terkuatnya.
Namun jika rupiah mampu menguat, maka resisten yang menarik dicermati ada di level Rp17.740/US$ dan kemudian berpotensi menguji Rp17.700/US$. Resisten terjauh adalah Rp17.650/US$.
- Dengan asistensi M Julian Fadli -
(riset/aji)






























