Logo Bloomberg Technoz

Pembagian waktu menjadi beberapa bagian kemudian berkembang menjadi sistem yang lebih teratur. Dalam sejarahnya, pembagian tersebut dapat ditelusuri hingga peradaban Mesopotamia dan Mesir kuno.

Bangsa Mesir diketahui menggunakan jam Matahari untuk mengukur waktu pada siang hari. Pada malam hari, jam air turut digunakan untuk membantu menentukan berjalannya waktu.

Dalam perkembangannya, periode siang dan malam dibagi menjadi masing-masing 12 bagian. Pola tersebut kemudian menjadi salah satu dasar yang memengaruhi sistem 12 jam yang masih digunakan hingga sekarang.

Ada pula alasan matematis yang membuat angka 12 dianggap praktis. Angka tersebut memiliki banyak pembagi sehingga lebih mudah digunakan untuk membagi suatu keseluruhan menjadi beberapa bagian.

Angka 12 dapat dibagi secara merata menjadi:

  • 2 bagian

  • 3 bagian

  • 4 bagian

  • 6 bagian

Karakteristik tersebut membuat angka 12 menjadi pilihan yang cukup fleksibel untuk pembagian waktu. Dalam kehidupan sehari-hari, konsep pembagian seperti ini juga memudahkan manusia memahami pecahan dari suatu periode.

Pada jam analog, 12 angka tersebut ditempatkan dalam bentuk lingkaran. Susunan ini membuat satu putaran penuh mewakili 12 jam.

Jarum jam kemudian kembali ke posisi awal setelah menyelesaikan satu putaran. Setelah itu, siklus yang sama kembali berlangsung selama 12 jam berikutnya.

Dengan demikian, sistem jam analog sebenarnya tidak menghilangkan 12 jam lainnya dalam satu hari. Kedua belas angka tersebut digunakan sebanyak dua kali dalam periode 24 jam.

Periode pertama berlangsung dari tengah malam hingga siang. Setelah mencapai tengah hari, hitungan kembali menggunakan angka 1 sampai 12 hingga tengah malam.

Konsep inilah yang kemudian dikenal sebagai sistem waktu 12 jam. Dalam penggunaan sehari-hari, pembagian tersebut biasanya dibedakan dengan keterangan sebelum tengah hari dan setelah tengah hari.

Sistem 24 Jam Sebenarnya Pernah Digunakan

Meskipun jam analog yang paling umum dikenal saat ini menggunakan angka 1 sampai 12, sistem 24 jam sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam sejarah perkembangan jam.

Dalam perkembangan jam mekanis di Eropa, pernah terdapat pelat jam yang menampilkan seluruh 24 jam. Artinya, manusia pernah menggunakan bentuk jam yang menunjukkan satu hari secara langsung dalam satu putaran.

Namun, sistem 12 jam kemudian menjadi lebih umum digunakan. Salah satu alasannya adalah sistem tersebut dianggap lebih sederhana dan sejalan dengan tradisi pembagian waktu yang telah berkembang sejak masa sebelumnya.

Sistem 12 jam juga membuat tampilan jam lebih sederhana. Daripada harus menempatkan 24 angka dalam satu lingkaran, permukaan jam cukup menggunakan 12 angka yang kemudian berulang untuk periode berikutnya.

Hal tersebut menjelaskan mengapa angka pada jam analog terlihat seperti hanya mewakili setengah dari jumlah jam dalam sehari. Sebenarnya, satu putaran jam hanya menggambarkan satu siklus 12 jam.

Setelah siklus tersebut selesai, jarum kembali ke angka 12 dan memulai putaran baru. Karena itulah, angka 12 menjadi titik penting dalam struktur jam analog.

Perpaduan Sejarah, Astronomi, dan Matematika

Jawaban atas pertanyaan kenapa jam punya 12 angka tidak dapat dilepaskan dari berbagai perkembangan peradaban manusia. Sistem tersebut merupakan hasil dari proses panjang dalam mengamati alam sekaligus mencari cara praktis untuk membagi waktu.

Pengamatan terhadap pergerakan Matahari menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan sistem pembagian waktu. Dari sana, manusia mulai membagi periode siang dan malam ke dalam bagian-bagian tertentu.

Faktor matematika juga memberikan alasan mengapa angka 12 begitu praktis. Kemampuannya untuk dibagi menjadi beberapa bagian secara merata membuat angka tersebut cocok digunakan sebagai dasar pembagian waktu.

Ketika teknologi pengukur waktu berkembang dari alat sederhana menuju jam mekanis, pola pembagian tersebut tidak langsung hilang. Sebaliknya, sistem yang telah dikenal sebelumnya terus digunakan dan akhirnya menjadi bagian dari bentuk jam yang dikenal masyarakat modern.

Karena itu, susunan angka 1 sampai 12 pada jam analog bukan sekadar persoalan estetika. Ada sejarah panjang yang membuat pola tersebut bertahan selama berabad-abad.

Dalam sumber yang dirujuk, kesimpulannya dirangkum dengan kalimat: "Kenapa jam punya 12 angka? Jawabannya adalah angka tersebut merupakan hasil perpaduan sejarah, astronomi, matematika, dan kebiasaan manusia dalam mengukur waktu."

Hingga saat ini, sistem tersebut masih digunakan dalam berbagai jenis jam analog di seluruh dunia. Meski teknologi digital telah membuat pembacaan waktu menjadi jauh lebih praktis, pola 12 angka pada jam tetap menjadi bentuk yang mudah dikenali.

Jadi, jika selama ini angka 12 pada jam terlihat seperti sesuatu yang biasa, ternyata di baliknya terdapat sejarah panjang. Perpaduan antara pengamatan astronomi, kebiasaan peradaban kuno, serta pertimbangan matematis membuat sistem 12 jam bertahan hingga era modern.

Pada akhirnya, satu hari tetap memiliki 24 jam, tetapi jam analog membaginya menjadi dua putaran. Satu putaran berlangsung selama 12 jam, kemudian putaran berikutnya mengulang angka yang sama untuk menyelesaikan satu hari penuh.

(seo)

No more pages