Logo Bloomberg Technoz

Kuartal II, Neraca Pembayaran & Current Account RI Masih Defisit

Hidayat Setiaji
21 August 2026 10:56

Karyawan menghitung mata uang dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan menghitung mata uang dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) periode kuartal II-2026. NPI masih mengalami defisit, demikian pula transaksi berjalan (current account).

Pada Jumat (21/8/2026), BI mengumumkan NPI tercatat defisit US$ 0,9 miliar pada kuartal II-2026. Jauh lebih sedikit ketimbang kuartal sebelumnya yang minus US$ 9.1 miliar.

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa NPI sudah berada di zona negatif selama tiga kuartal berturut-turut.


Berdasarkan komponen pembentuknya, transaksi berjalan tercatat defisit US$ 12,5 miliar atau 3,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Jauh melebar ketimbang defisit kuartal sebelumnya yakni US$ 3,6 miliar (1% PDB).

"Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan non-migas. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.