Langkah tersebut sempat memberikan sentimen positif bagi pasar obligasi global, tetapi mereda setelah yield US Treasury kembali naik. Yield US Treasury tenor 30 tahun kembali naik sekitar 5,4 bps ke 5,24%.
Pudarnya pesona US Treasury karena investor menilai langkah buyback tersebut hanya memberikan kelegaan sementara, belum menyelesaikan persoalan ekonomi AS yang mengalami defisit sebesar US$432 miliar pada Juli.
Aksi jual di pasar US Treasury kemarin membawa berkah bagi Indonesia. Dalam dua hari beruntun, yield di pasar obligasi domestik menguat dan terpangkas pada semua tenor.
Tenor 4-5 tahun dan tenor 9-10 tahun, turun cukup dalam. Yield tenor 4 tahun turun 14,9 basis poin (bps), dan tenor 10 tahun turun 8,2 bps. Ada indikasi bahwa premi risiko Indonesia sedang terpangkas, didukung oleh keputusan BI untuk mempertahankan BI Rate di 5,75%, serta berlanjutnya stabilitas rupiah.
Dengan sentimen yang berkelindan, rupiah di pasar spot berpeluang melanjutkan penguatan secara terbatas, sejalan dengan posisi rupiah di pasar offshore yang masih berada di sekitar Rp17.809/US$ serta menguatnya sebagian mata uang Asia.
Kemarin, bahkan rupiah sempat menguat 0,52% ke Rp17.748/US$, kala yield US Treasury turun dan sentimen domestik relatif mendukung. Hari ini rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp17.700-Rp17850/US$.
Analisis Teknikal
Secara teknikal, nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini usai keberhasilan menembus level resistance potensialnya.
Rupiah punya target penguatan menuju Rp17.700/US$ hingga Rp17.640/US$. Level selanjutnya berpeluang lanjut menguat bertahap sampai dengan Rp17.600/US$.
Jika rupiah kembali melemah nantinya, maka support terdekat dapat berbalik arah ke posisi Rp17.780/US$. Rentang laju rupiah dalam support nantinya di antara Rp17.800/US$ hingga Rp17.900/US$.
(riset/aji)





























