Bursa Asia Diperkirakan Melemah usai Harga Minyak Kembali Naik
News
02 October 2026 07:00

Toby Alder - Bloomberg News
Bloomberg, Bursa saham Asia diperkirakan melemah setelah harga minyak melonjak di tengah kemungkinan kembali pecahnya konflik antara AS dan Iran, menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap dampak inflasi dari kenaikan harga energi. Pergerakan obligasi juga akan menjadi perhatian setelah Treasury menguat.
Kontrak berjangka indeks saham Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan menunjukkan potensi penurunan saat pembukaan perdagangan, sementara kontrak berjangka Australia bergerak naik. Kontrak berjangka saham AS menguat setelah sesi perdagangan Wall Street yang bergejolak, dengan saham akhirnya mencatat kenaikan tipis.
Treasuries menguat setelah sebelumnya mengalami aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global, meskipun harga minyak naik. Tekanan di pasar Eropa mendorong permintaan terhadap aset safe haven. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun turun dari level tertinggi dalam 24 tahun. Penguatan tersebut juga didukung komentar pejabat Federal Reserve (The Fed) yang cenderung dovish. Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS naik ke level tertinggi sejak akhir Juni pada Kamis (1/10), sementara harga emas menguat 0,5%.
Kemungkinan kembali pecahnya permusuhan antara AS dan Iran mendorong harga minyak naik. Harga minyak mentah AS menguat pada perdagangan awal di Asia setelah Brent melonjak lebih dari 4% hingga kembali menembus US$100 per barel. Pentagon kemungkinan segera mengerahkan satu kapal induk tambahan serta 10.000 personel Angkatan Laut dan Korps Marinir ke Teluk Persia. Langkah tersebut akan memberi lebih banyak opsi bagi komandan AS jika Presiden Donald Trump memutuskan untuk meningkatkan serangan terhadap Iran.































