Logo Bloomberg Technoz

“Jadi ini kan kita harus mengerti juga di posisinya pemerintah bagaimana untuk menjaga keekonomian apa mineral ini juga penting,” ungkap dia.

Vale Indonesia. (Dok. Vale Indonesia)

Adapun, kuota produksi bijih nikel Vale yang direstui Kementerian ESDM sebelumnya dalam RKAB 2026 untuk tambang Bahodopi mencapai 2,31 juta ton, terpelanting 74% dari rencana produksi 2026 sebanyak 8,8 juta ton.

Meskipun begitu, kuota produksi tersebut tercatat lebih tinggi dari realisasi produksi bijih nikel dari tambang Bahodopi pada 2025 sebanyak 2,01 juta ton.

Untuk tambang nikel Pomalaa, INCO mendapatkan kuota produksi pada 2026 sejumlah 5,8 juta ton atau anjlok 68% dibandingkan dengan target produksi tahun ini sebanyak 18,06 juta ton.

Untuk produksi nikel dalam bentuk matte dari Sorowako, perseroan menargetkan produksi sejumlah 67.645 ton. Target produksi masih lebih rendah 6% dari realisasi produksi pada 2025 sebanyak 72.027 ton, sebab terdapat pemeliharaan furnace atau tungku peleburan di smelter perseroan.

Dalam kesempatan sebelumnya, Anto mengungkapkan proyek smelter di Pomalaa ditargetkan rampung dibangun pada Agustus 2026, sehingga membutuhkan pasokan bijih sepanjang 2026 mencapai 7 juta ton.

“Di Pomalaa kita mengusulkan 18 juta ton, yang disetujui adalah 5,8 juta ton. Jadi kalau Bapak Ibu bisa lihat, di Pomalaa seperti yang tadi saya jelaskan rencananya pabrik itu sudah mulai terbangun atau sudah mulai beroperasi Agustus. Jadi kalau pabrik sudah mulai beroperasi, artinya sebelum Agustus sudah ada stockpile, sudah harus ada produksi,” kata Bernadus dalam RDP di Komisi XII DPR, medio April.

“Jadi kalau Bapak Ibu lihat, ada selisih antara apa yang diperlukan dengan apa yang sudah di-approve baik di Pomalaa dan di Bahodopi,” tegas dia.

Berdasarkan data per Juni 2026, smelter hidrometalurgi berbasis HPAL di Pomalaa telah memasuki tahap mechanical completion dan proses pembangunannya telah mencapai level 100%.

Smelter Pomalaa memiliki kapasitas produksi sekitar 120.000 ton kandungan nikel dalam mixed hydroxide precipitate (MHP), dengan kebutuhan bijih limonit sebanyak 21 juta ton per tahun dan saprolit sejumlah 720.000 ton per tahun.

Total nilai investasinya diperkirakan mencapai US$3,4 miliar, Vale bekerja sama dengan Huayou dan Ford dalam pembangunan smelter-nya.

Sementara itu, proyek smelter IGP Morowali telah memasuki progres operasional. Blok Bahodopi dengan luas 22.699 hektare dilaporkan telah mulai beroperasi sejak kuartal I-2025.

Untuk sektor tambang, konstruksi fase 1 telah mencapai 100% dan kini perusahaan berfokus pada persiapan penyelesaian fase 2 yang ditargetkan rampung pada 2027. Vale mengungkapkan pada awal 2026 telah terdapat 2,2 juta ton bijih yang terjual dari proyek tersebut.

Sementara itu, progres pembangunan pabrik HPAL hasil kemitraan dengan GEM dan EcoPro berkapasitas 66.000 ton per tahun MHP telah mencapai 36% dan ditargetkan rampung pembangunannya pada Maret 2027. Total investasi proyek ini mencapai US$2 miliar.

Adapun, di Sulawesi Selatan, Vale bersama Huayou tengah mengembangkan proyek IGP Sorowako Limonite di Blok Sorowako seluas 70.566 hektare untuk mendukung hilirisasi nikel limonit.

Pembangunan tambang per Juni 2026, telah mencapai 50%, sedangkan progres pabrik HPAL berada di angka 19%.

Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan pada Desember 2027.

Adapun, Kementerian ESDM memangkas kuota kumulatif produksi bijih nikel dalam RKAB tahun ini di rentang 260 juta ton sampai 270 juta ton, terpelanting dari produksi dalam RKAB tahun lalu sebanyak 320 juta ton.

(azr/wdh)

No more pages