Sebagian mata uang Asia yang melemah terbebani oleh perkembangan terbaru di Timur Tengah, terutama belum adanya terobosan dalam perundingan AS-Iran mengenai pembukaan Selat Hormuz. Kebuntuan itu membuat pasar belum dapat sepenuhnya menghapus premi risiko geopolitik dari harga minyak ataupun aset di pasar negera berkembang.
Di satu sisi, Washington terus memberikan tekanan ekonomi terhadap Teheran, sementara di sisi lain Iran masih mempertahankan posisi keras terkait pembukaan jalur pelayaran.
Kondisi ini membuat pasar minyak kesulitan memperkirakan kapan arus perdagangan energi akan kembali normal dan harga minyak, meski sedikit melandai sejatinya belum pulih sepenuhnya.
Itu mengapa, meski sentimen domestik di Indonesia cukup menopang posisi rupiah, namun apresiasi terhadap mata uang Garuda relatif terbatas.
(dsp/aji)





























