Gerak Rupiah Dibayangi Ekspektasi Inflasi dan Data Perdagangan
Tim Riset Bloomberg Technoz
28 September 2026 08:23

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pergerakan rupiah di pasar spot diperkirakan kembali melemah pada perdagangan awal pekan ini. Tekanan dari harga minyak yang masih melambung, disertai adanya ekspektasi inflasi September yang meninggi menjadi pemicu.
Pada Senin (28/9/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) bergerak di kisaran Rp17.971/US$ pada 07:46 WIB. Sementara harga minyak mentah Brent naik 1,4% ke US$105,78/barel, dan West Texas Intermediate (WTI) di US$93,22/barel.
Sentimen lain yang membayangi rupiah adalah data inflasi September. Bloomberg Economics memperkirakan inflasi Indonesia bulan ini ada di 3,3% yoy dari posisi Agustus yang sebesar 3,19% yoy. Percepatan laju inflasi dipicu oleh tingginya harga energi diperkirakan mulai merambat ke harga barang dan jasa inti, meski dampaknya sebagian tetap diredam oleh subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah.
Ke depan, Bloomberg Economics juga memperkirakan inflasi berpotensi menembus batas atas target BI yang dipatok 1,5%-3,5%. Terutama lantaran adanya risiko El Nino yang membuat harga pangan semakin meninggi.
Pekan ini, pergerakan rupiah juga dibayangi oleh data neraca perdagangan yang tergambar pada perkiraan pertumbuhan impor-ekspor. Berdasarkan konsensus yang dihimpun Bloomberg, median estimasi impor Agustus diperkirakan tumbuh 27,8% yoy dari 27,02% yoy pada Juli. Sementara, ekspor melambat tajam dari 6,05% pada Juli, diperkirakan menjadi 2,5% pada Agustus.

























