Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Bebani Gerak Rupiah dan Mata Uang Asia

Tim Riset Bloomberg Technoz
28 September 2026 09:37

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan Senin (28/9/2026) dengan pelemahan 0,34% ke Rp17.953/US$, sejalan dengan gerak mata uang Asia yang sebagian besar merah. 

Pelemahan mata uang kawasan dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah brent ke US$105/barel akibat belum adanya perkembangan resolusi yang signifikan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, dengan langkah Presiden AS Donald Trump yang menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Dari kawasan, baht Thailand melemah paling tajam 0,45%, disusul rupiah sebesar 0,3%, yen Jepang 0,27%, dan won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura, peso Filipina serta yuan China. 

Rupiah dan mata uang Asia, Senin (28/9/2026). (Bloomberg)

Tekanan rupiah juga datang ekspektasi inflasi September yang diperkirakan lebih tinggi di 3,3% yoy, menurut proyeksi Bloomberg Econmics. Percepatan laju inflasi dipicu oleh tingginya harga energi diperkirakan mulai merambat ke harga barang dan jasa inti, meski dampaknya sebagian tetap diredam oleh subsidi bahan bakar minyak (BBM) pemerintah.

Bloomberg Economics memperkirakan inflasi berpotensi menembus batas atas target BI yang dipatok 1,5%-3,5%. Terutama lantaran adanya risiko El Nino yang membuat harga pangan semakin meninggi.