Logo Bloomberg Technoz

Menurut Moshe, kondisi tersebut didorong oleh realitas transisi energi global yang tidak serta-merta menggantikan energi fosil secara mendadak, melainkan menambah ragam sumber energi baru.

"Skenario konsumsi global juga menyatakan gas dan minyak akan terus naik sampai 2050. Kenapa? Karena di dunia, tidak ada yang namanya transisi energi yang secara langsung menggantikan total. Kita hanya menambah sumber energi baru,” tegasnya. 

“Karena ini konsumsi gas diprediksi akan tetap naik melewati 2050. Jadi potensinya tetap ada, tinggal bagaimana pemerintah bisa bersaing dengan negara lain."

Investasi Menantang

Bagaimanapun, Moshe menyayangkan iklim investasi migas di dalam negeri yang dinilai makin rumit dan berbiaya tinggi.

Selain menghadapi laju penurunan produksi alami (natural decline), Indonesia harus bersaing ketat dengan negara-negara lain yang gencar menawarkan kemudahan perizinan serta insentif menarik bagi para investor.

Guna memanfaatkan peluang kenaikan PNBP migas pada masa depan, Moshe menekankan pentingnya stabilitas politik dan kejelasan aturan.

Dia mengingatkan ketidakpastian regulasi dan benturan internal hanya akan mendorong investor mengalihkan modalnya ke negara lain yang menawarkan iklim investasi lebih pasti.

"Potensi PNBP migas meningkat itu selalu ada, tetapi perubahannya tidak bisa instan, harus mulai dari sekarang. Proses perubahan regulasi dan iklim investasi tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa atau asal ubah seperti yang dilakukan menteri saat ini. Proses itu harus matang," pungkas Moshe.

Sebagai informasi, menurut laporan lembaga-lembaga energi dunia, seperti International Energy Agency (IEA), Gas Exporting Countries Forum (GECF), dan OPEC pertumbuhan konsumsi gas alam secara global diproyeksikan terus meningkat hingga 2050. 

Meskipun transisi ke energi terbarukan terdorong di berbagai belahan dunia, gas alam tetap dipandang sebagai bahan bakar transisi yang sangat krusial.

Karakteristik gas alam yang menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan dengan batu bara dan minyak bumi membuatnya menjadi opsi realistis bagi banyak negara untuk menekan emisi sekaligus menjaga kestabilan pasokan energi dasar (baseload power). 

Adapun, realisasi PNBP sektor minyak dan gas bumi (migas) pada 2025 mencapai sekitar Rp105,4 triliun, atau setara dengan 83,7% dari target awal yang ditetapkan sebesar Rp125,46 triliun.

Jika dibandingkan dengan PNBP minerba, setoran dari sektor migas ini tertinggal. Realisasi PNBP minerba mencapai Rp130,17 triliun sepanjang 2025 atau 104,38% dari target yang ditetapkan dalam APBN 2025 (sekitar Rp124,5—Rp124,7 triliun).

Pada 2026, berdasarkan data terbaru Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi PNBP dari sektor ESDM mencapai Rp96,26 triliun per Juli 2026. Angka tersebut mencapai 70,69% dari target PNBP sektor ESDM 2026 yang sebesar Rp136,18 triliun.

(smr/wdh)

No more pages