Logo Bloomberg Technoz

Insentif EV Berbaterai Nikel Diproyeksi Pacu Kinerja Smelter HPAL

Sabrina Mulia Rhamadanty
11 August 2026 09:10

Fasilitas pemrosesan nikel yang dioperasikan oleh Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, Indonesia, Rabu (8/3/2023). (Dimas Ardian/Bloomberg)
Fasilitas pemrosesan nikel yang dioperasikan oleh Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, Indonesia, Rabu (8/3/2023). (Dimas Ardian/Bloomberg)

Bloomberg Technoz, Jakarta – Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan wacana pemberian insentif PPNDTP 100% untuk kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) berasis baterai nikel dinilai akan mendorong kinerja pertumbuhan smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leach (HPAL).

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah menilai pemberian stimulus untuk EV yang menggunakan baterai nickel manganese cobalt (NMC) dari pemerintah dapat menjadi katalis utama untuk mempercepat integrasi rantai pasok industri baterai dari hulu ke hilir.

Integrasi ini mencakup sektor pertambangan nikel, smelter HPAL, produsen prekursor dan katoda, produsen sel baterai, hingga pabrikan mobil listrik dalam negeri.


“Integrasi ini sangat krusial agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain kunci dalam rantai pasok EV global,” ujar Arif saat dihubungi, Selasa (11/8/2026).

Adopsi baterai EV di ekonomi berkembang berdasarkan jenisnya./dok. BMI

Meskipun saat ini pasar global diwarnai persaingan ketat dengan teknologi baterai lithium ferro phosphate (LFP), FINI optimistis baterai NMC tetap memiliki daya saing yang kuat di sektor industri EV.