Biaya Smelter HPAL Naik Saat RI Pacu Insentif EV Berbaterai Nikel
Sabrina Mulia Rhamadanty
05 August 2026 11:50

Bloomberg Technoz, Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengingatkan ihwal lonjakan biaya operasional pada smelter nikel high pressure acid leach (HPAL) di tengah rencana insentif kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) berbasis baterai nickel manganese cobalt (NMC).
Ketua Komite Pertambangan Minerba Apindo Hendra Sinadia menyampaikan, kendati kebijakan nasional saat ini memberi angin segar bagi pertumbuhan smelter HPAL sebagai penghasil bahan baku baterai EV, terdapat tantangan besar yang mengintai di tingkat operasional.
"Kebijakan [insentif EV] saat ini memang lebih mendorong smelter HPAL. Namun, kondisi saat ini biaya operasional untuk smelter HPAL makin tinggi akibat mahalnya biaya bahan baku seperti sulfur, bahan bakar, serta dampak dari berbagai regulasi yang ada," ujar Hendra saat dihubungi, Rabu (5/8/2026).
Dia menambahkan efektivitas insentif pemerintah dalam mendorong ekosistem EV berbasis NMC akan sangat bergantung pada ketahanan industri smelter dalam memikul beban produksi tersebut.
“Insentif EV berpotensi mendorong pergeseran ke permintaan [bahan baku baterai hasil produksi smelter] HPAL yang lebih tinggi, tetapi ini akan sangat bergantung pada kemampuan industri menghadapi tekanan biaya produksi,” ujarnya.































