Logo Bloomberg Technoz

Rupiah Diproyeksikan Stabil, Pasar Cermati Cadangan Devisa RI

Tim Riset Bloomberg Technoz
06 August 2026 08:13

Karyawan merapihkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang dolar AS dan rupiah di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah diperkirakan stabil di pasar spot pada perdagangan Kamis (6/8/2026) dan mempertahankan posisinya di kisaran Rp17.900/US$, terlihat dari pergerakan rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) yang relatif tenang. Meski berubah sedikit 0,03% rupiah offshore bertahan di Rp17.942/US$. 

Di samping itu, tekanan eksternal cukup mendukung stabilitas rupiah. Harga minyak kembali terpangkas pagi ini. Minyak Brent turun 0,49% ke US$79,06/barel pagi ini, sementara West Texas Intermediate (WTI) terpangkas 0,66% ke US$74,72/barel. 

Meredanya tekanan eksternal dari harga minyak juga masih dapat menopang penguatan bagi sebagian mata uang di pasar Asia, meski lebih terbatas dibanding kemarin. Ringgit Malaysia memimpin penguatan 0,08%, disusul won Korea Selatan 0,04%, yen Jepang, yuan offshore, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong. 

Pergerakan mata uang Asia pada Kamis (6/8/2026). (Bloomberg)

Walaupun tekanan harga minyak mereda, pelaku pasar sejatinya masih mencermati kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, dengan menanti tanda-tanda baru adanya kemajuan kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz. 

Dari dalam negeri, setelah rilisnya data inflasi, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi, pelaku pasar akan mencermati data cadangan devisa Indonesia yang dijadwalkan rilis esok hari. Investor akan mencerna posisi cadangan devisa sebagai bantalan penting rupiah, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih dipengaruhi dinamika antara AS dan Iran yang dapat menyebabkan gangguan pasokan dan berpotensi mengerek inflasi global.