Rupiah Menguat, Harga Minyak dan Pasar Obligasi Jadi Penyebab
Tim Riset Bloomberg Technoz
18 September 2026 09:15

Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah membuka perdagangan Jumat (18/9/2026) dengan penguatan 0,14% ke Rp17.722/US$, seiring meredanya kekhawatiran inflasi dengan terpangkasnya harga minyak Brent ke US$100/barel.
Penurunan harga minyak memberi ruang bagi mata uang Asia untuk menguat. Baht Thailand menguat tajam disusul ringgit Malaysia, dolar Taiwan, peso Filipina, yuan offhsore, yuan China dan dolar Hong Kong.
Sedangkan won Korea Selatan berbalik melemah, setelah sempat terapresiasi pada awal perdagangan, disusul yen Jepang yang tergerus akibat langkah hawkish The Fed. Pelaku pasar memperkirakan yen bisa terus melemah, kecuali Bank of Japan (BoJ) meyakinkan pasar bahwa mereka akan menempuh langkah mengetatan moneter lebih lanjut.
Sebagian mata uang Asia juga tertopang oleh pegerakan rebound di pasar obligasi, terlihat dari turunnya yield obligasi tenor acuan sebagian negara di kawasan bergerak turun.
- Indonesia (USD)/INDON (-2,9 bps) 5,87%
- Indonesia (Rupiah)/INDOGB (stabil) 7,1%
- Jepang (-3,0 bps) 2,93%
- Selandia Baru (-6,9 bps) 4,91%
- Australia (-3,8 bps) 5,26%
- Singapura (-1,5 bps) 2,45%
- India (stabil) 7,04%
- China (0,1 bps) 1,67%
- Thailand (stabil) 2,3%
- Taiwan (stabil) 1,91%
Pergerakan yield di pasar obligasi menunjukkan tekanan di pasar keuangan kawasan mulai mereda, meski belum sepenuhnya hilang. Di pasar domestik, penurunan yield paling tajam terjadi pada tenor pendek. Melansir data Bloomberg, yield obligasi domestik tenor 1 tahun turun 10,5 bps 6,72%, tenor 5 tahun turun 0,1 bps ke 7%, yield 10 tahun turun 0,4 bps 7,15%.






























