Berebut Bantuan Air Bersih Kala Ibu Kota Disapa Kekeringan
Andrean Kristianto
18 September 2026 18:41
Bloomberg Technoz, Jakarta - Keran yang biasanya menjadi tempat warga mengambil air untuk berbagai kebutuhan rumah tangga kini tak lagi selalu bisa diandalkan. Di Jalan Turi dan Jalan Lontar, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, warga mulai merasakan dampak kemarau panjang sejak Agustus 2026.
Aliran air yang melemah membuat kegiatan sehari-hari ikut berubah. Sinta, warga Jalan Turi, mengatakan air masih mengalir, tetapi kerap berhenti dan membutuhkan waktu jauh lebih lama untuk mengisi bak di rumahnya.
Baca Juga
“Airnya ada cuman kayak ngisi terus mati, ngempos, biasanya ngisi 1 bak gak lebih dari sejam sekarang bisa 3 jam lebih. Sekarang nyuci jadi nge-laundry saya, biasanya nyuci sendiri,” kata Sinta warga Jalan Turi, Lenteng Agung, Jakarta kepada Bloomberg Technoz, Jumat (18/9).
Kondisi lebih sulit dirasakan Siti, warga Jalan Lontar. Ia mengatakan air yang sebelumnya masih mengalir meski hanya sedikit, kini sudah tidak keluar sama sekali dari rumahnya selama sekitar satu pekan.
“Air sekarang gak keluar sama sekali, kalau kemarin masih keluar paling dapet seember kecil, tapi sekarang ga ada lagi, sudah seminggu yang lalu,” kata Siti.
Kesulitan mendapatkan air bersih tersebut kemudian mendapat perhatian BPBD Jakarta Selatan. Petugas menyalurkan air bersih ke Jalan Turi dan Jalan Lontar untuk memenuhi kebutuhan warga yang terdampak.
Ketua RW 03 Lenteng Agung, Haswin Anwar, mengatakan terdapat 10 RT yang masuk dalam pendataan warga terdampak. “Ada 10 RT itu yang sudah masuk data RW 74 KK,” kata Ketua RW 03 Lenteng Agung, Haswin Anwar kepada Bloomberg Technoz.
Kondisi itu terjadi ketika sejumlah wilayah Jakarta berada dalam status Awas untuk potensi kekeringan meteorologis. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), status tersebut pada Dasarian II, 11-20 September 2026, mencakup Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu.
(dre)

























