"PLN lebih berperan sebagai enabler yang bertugas membangun jaringan transmisi untuk mengevaluasi daya dari pembangkit-pembangkit tersebut,” ujarnya.
Suroso menambahkan fokus utama PLN saat ini bukan hanya menyusun perencanaan yang baik dalam pembangunan PLTA, melainkan memastikan seluruh rencana proyek tersebut dapat tereksekusi hingga beroperasi secara komersial atau mencapai commercial operation date (COD).
“Mindset yang harus kita ubah adalah bagaimana mengeksekusi rencana yang baik ini menjadi proyek yang benar-benar beroperasi. Hal ini tidak bisa kami lakukan sendiri, jadi kolaborasi adalah kuncinya,” katanya.
Meskipun target yang ditetapkan cukup besar, dalam laporan PLN, realisasi di lapangan menunjukkan kapasitas hidro yang telah mencapai COD baru mencapai 0,6 GW, sedangkan 2,4 GW lainnya berada dalam tahap konstruksi aktif.
Sementara itu, porsi proyek pada tahap pengadaan masih menyentuh angka 7,6 GW serta 5,3 GW yang masih dalam tahap studi kelayakan atau feasibility study (FS).
Berikut perincian pembagian proyek PLTA antara IPP dan PLN dalam RUPTL 2025—2034:
1. IPP (Total >260 proyek)
- PLTA: 9.441 MW (48 proyek)
- Pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM) <30 MW: 1.110 MW (214 proyek)
2. PLN:
- PLTA: 361 MW (7 proyek)
- PLTM/pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH): 51 MW (20 proyek)
3. Subholding PLN:
- PLTA: ~700 MW
- PLTM: 28 MW
(wdh)





























