Tingginya ketergantungan Indonesia pada impor minyak membuat sentimen kelangkaan minyak berpotensi membebani rupiah.
Kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan data perdagangan semester pertama 2026 (Januari-Juni). Defisit neraca migas tercatat melebar hingga mencapai US$15,77 miliar, menggerus hampir seluruh surplus non-migas sebesar US$19,35 miliar. Akhirnya membuat surplus perdagangan nasional menyusut menjadi hanya US$3,58 miliar.
Pada saat yang sama, kebutuhan dolar justru meningkat karena nilai impor, terutama minyak dan gas, semakin besar. Kombinasi kedua faktor tersebut menyebabkan rupiah berpotensi menjadi lebih rapuh.
Sebagai catatan, sepanjang tahun ini, rupiah menjadi mata uang terlemah di kawasan dan telah tergerus sebanyak 7,41%, disusul rupee India 5,73%, dan baht Thailand 5,71%.
Dalam Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti kembali menyebut bahwa bank sentral terus memperkuat implementasi kebijakan moneter dengan melakukan optimalisasi intervensi valas, baik lewat intervensi Non-Deliverable Forwards (NDF) di pasar luar negeri, maupun transaksi spot. Di samping, memperkuat struktur suku bunga di pasar uang.
(dsp/aji)






























