Logo Bloomberg Technoz

Harga Minyak Berpotensi Mengganjal Penguatan Rupiah

Tim Riset Bloomberg Technoz
04 August 2026 08:30

Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Karyawan merapihkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran mata uang di Jakarta, Senin (27/7/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Sepertinya angin segar bagi rupiah mulai memudar. Rupiah di pasar spot diperkirakan kembali tertekan hari ini (4/8/2026), setelah mengawali pekan dengan penguatan. 

Di perdagangan Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah pagi ini melemah. Mulanya, rupiah hanya tergelincir 0,02% ke Rp18.019/US$ pada pembukaan. Namun, rupiah melanjutkan pelemahannya 0,11% menjadi Rp18.035/US$. 

Begitu juga di pasar Asia, sebagian besar mata uang di pasar yang sudah buka melemah. Baht Thailand melemah 0,15%, yen Jepang 0,06%, ringgit Malaysia dan dolar Singapura masing-masing 0,02%. 


Di zona hijau, hanya yuan China dan won Korea Selatan yang menguat sangat terbatas, masing-masing 0,03% dan 0,02%. 

Mata uang Asia. (Bloomberg)

Penyebabnya, timbul kekhawatiran kelangkaan energi global, lantaran ada kendala pada kapasitas pengilangan minyak. Minyak brent kembali dibanderol US$84,24/barel, naik 0,47%. Sementara, indeks dolar AS relatif stabil di 99,95.