Logo Bloomberg Technoz

Memang, harga minyak Brent di pasar kontrak tersebut relatif lebih rendah, setelah adanya negosiasi baru antara AS dan Iran. Namun peringatan dari sejumlah analis yang mengamati dinamika pasar fisik daripada kontrak berjangka menyebut, dunia sesungguhnya sedang menghadapi kelangkaan bahan bakar. 

Pernyataan ini diamini oleh perusahaan-perusahaan minyak besar di AS, seperti Shell, Exxon, dan Chevron, yang menilai harga bahan bakar di SPBU akan bertahan tinggi, terlepas dari arah pergerakan harga minyak mentah. 

Terdapat selisih harga yang kian melebar antara kontrak berjgnka, dengan harga minyak di pasar fisik. Selisih harga ini dipicu oleh terganggunya arus ekspor energi dari Timur Tengah yang makin meluas dari Selat Hormuz hingga Laut Merah, dan membuat pasokan untuk proses pengilangan terganggu. 

Sehingga, meski AS dan Iran dikabarkan kembali merundingkan kesepakatan damai dan membuat harga kontrak berjangka kembali melandai, namun kondisi di pasar fisik sebaliknya. Pasokan produk hasil olahan minyak, seperti bensin dan diesel, masih sangat ketat, dan menyebabkan tekanan terhadap harga bahan bakar masih tinggi. 

Bagi rupiah, sentimen ini dapat memicu volatilitas lantaran tingginya ketergantungan domestik pada impor minyak. 

Ketika harga bensin dan diesel di pasar internasional tetap tinggi, nilai impor migas otomatis meningkat, sekalipun volume impornya tidak berubah secara signifikan.

Hal ini mulai tercermin dalam data perdagangan semester pertama 2026 (Januari-Juni). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa defisit neraca migas melebar hingga mencapai US$15,77 miliar, menggerus hampir seluruh surplus non-migas sebesar US$19,35 miliar. Akhirnya membuat surplus perdagangan nasional menyusut menjadi hanya US$3,58 miliar.

Pada saat yang sama, kebutuhan dolar justru meningkat karena nilai impor, terutama minyak dan gas, semakin besar. Kombinasi kedua faktor tersebut menyebabkan rupiah menjadi lebih rapuh. 

Akibatnya, rupiah berpotensi semakin sensitif terhadap setiap perubahan sentimen global, baik berupa penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi AS, maupun keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.

Di tengah kondisi dan sentimen yang ada, penguatan rupiah di pasar spot diperkirakan masih terbatas. Sebab, makin sempitnya ruang surplus perdagangan berpotensi mengurangi salah satu penopang utama pasokan devisa, sementara kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor bertahan tinggi. 

Selama belum ada katalis positif dalam bentuk normalisasi harga energi, perbaikan neraca dagang, atau arus modal masuk yang signifikan, sepertinya rupiah kembali berpotensi tertekan. 

Analisa Teknikal

Analisis Teknikal Rupiah Selasa 4 Agustus 2026 (Sumber: Bloomberg)

Meski diliputi sejumlah sentimen, secara teknikal nilai tukar rupiah masih memiliki peluang menguat hari ini. Adapun rupiah berpotensi menguat ke resistance terdekat di Rp17.950/US$. Resistance potensial selanjutnya bisa menembus Rp17.880/US$ usai penembusan trendline sebelumnya.

Rupiah memiliki level Rp17.800/US$ sebagai target paling optimistis penguatan di dalam time frame harian.

Namun jika nilai tukar rupiah justru melemah, maka level support terdekat ada di Rp18.000/US$. Penembusan di titik ini memberi konfirmasi support selanjutnya di Rp18.100/US$ hingga support psikologis Rp18.170/US$.

(riset/aji)

No more pages