Penguatan harga emas dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut akan kembali berunding dengan Iran hari ini.
Pelaku pasar logam mulia juga terus mencermati arah kebijakan The Fed setelah Ketua Kevin Warsh mempertimbangkan pengurangan frekuensi rapat kebijakan moneter.
Ahmad Assiri, ahli strategi pasar di Pepperstone Group Ltd., mengatakan harga emas mendapat dorongan sentimen positif setelah Trump menunda rencana serangan terhadap Iran pada akhir pekan.
Logam mulia kini bergerak dalam fase konsolidasi, ditopang pula oleh sikap Federal Reserve yang masih cenderung hawkish, tetapi tidak seagresif perkiraan pasar.
"Yield obligasi terus meningkat sehingga memberikan tekanan moderat terhadap daya tarik emas, meskipun korelasi tersebut masih relatif terbatas," ujar Assiri, seperti dikutip Bloomberg News.
Namun, Ia menambahkan, gejolak gepolitik yang melibatkan Iran masih berpotensi membebani pergerakan harga emas sepanjang pekan ini, jika upaya diplomatik ternyata tidak membuahkan hasil.
Di sisi lain, prospek harga emas dunia juga tertopang oleh lonjakan permintaan dari bank sentral sebagai startegi diversifikasi cadangan devisa.
Data World Gold Council (WGC) menunjukkan pembelian emas oleh bank sentral telah melampaui 1.000 ton per tahun selama tiga tahun beruntun.
Tren tersebut didorong oleh upaya berbagai negara untuk mengurangi ketergantungan terhadap aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS), memperkuat ketahanan cadangan devisa.
Di samping, tujuan utamanya juga meningkatkan perlindungan terhadap risiko inflasi, gejolak pasar keuangan, dan ketidakpastian geopolitik.
Hasil Central Bank Gold Reserves Survey 2026 menunjukkan 45% bank sentral responden berencana menambah kepemilikan emas dalam 12 bulan mendatang, sementara tidak ada satu pun responden yang menyatakan akan mengurangi cadangan emasnya.
(dsp)





























