Malaysia telah memainkan peran global yang penting sebagai tuan rumah bagi kilang milik Lynas Rare Earths Ltd dari Australia yang sedang berkembang, salah satu dari hanya dua produsen utama di luar China. Fasilitas tersebut saat ini dipasok dengan bijih dari Australia, namun terdapat minat yang semakin besar, termasuk dari Lynas, terhadap mineral tanah jarang Malaysia yang belum dieksploitasi.
Setiap ekspor yang dilanjutkan akan patuh pada syarat-syarat tertentu, termasuk keterkaitan dengan investasi masuk dan transfer teknologi, kata Syed Ibrahim dalam wawancara di Putrajaya. Ekspor tersebut harus digunakan untuk penelitian dan pengembangan di luar Malaysia, katanya.
Ia menolak memberikan jadwal waktu untuk perubahan apa pun pada peraturan ekspor.
Menambah Value
“Diversifikasi sangatlah penting,” kata Syed Ibrahim. “Kami ingin mengurangi risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi dari satu sumber saja.”
Malaysia telah “berada pada jalur yang tepat” untuk menjadi pusat regional bagi mineral kritis pada tahun 2030, dan sedang mencari investasi di seluruh rantai nilai, mulai dari pertambangan hingga pabrik hilir, tambahnya.
Indonesia sendiri, yang telah menggunakan pembatasan ekspor untuk membangun industri logam dalam negerinya, terkadang mengizinkan perusahaan untuk tetap mengekspor beberapa bahan baku dengan syarat mereka memenuhi target investasi di pabrik hilir.
Walau cadangan logam tanah jarang Malaysia yang terkonfirmasi hanya mencapai 1% dari total global — dibandingkan dengan China yang mencapai lebih dari 50%, menurut Hannam & Partners Research — negara ini telah menarik minat yang signifikan dari perusahaan pertambangan dan pemurnian asing.
Selain Lynas, konglomerat lokal seperti Berjaya Corp Bhd juga sedang menjajaki proyek-proyek. Perusahaan Prancis, Carester SAS, berencana membangun pabrik pemisahan logam tanah jarang di negara bagian Perak, di bagian utara, sebagai bagian dari kerja sama dengan Malaco Mining Group dari Malaysia.
Meskipun upaya untuk meningkatkan keterlibatan China dalam pertambangan dan pengolahan hanya membuahkan hasil yang terbatas, Syed Ibrahim mengatakan bahwa pemerintah akan terus menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Tiongkok mengingat keunggulan teknologi yang telah mereka miliki selama beberapa dekade.
“Jika China bersedia berbagi teknologi, hal itu akan menjadi keuntungan bagi kita semua,” kata Syed Ibrahim.
Kebijakan Luar Negeri
Lynas menghadapi pengawasan politik di Malaysia sejak mengumumkan kesepakatan empat tahun untuk memasok militer AS. Sebuah komite parlemen sedang menyelidiki implikasi perjanjian tersebut terhadap kebijakan luar negeri Malaysia, mengingat dukungan Washington terhadap Israel dan dukungan Malaysia yang telah lama diberikan kepada Palestina.
Syed Ibrahim mengatakan bahwa ia belum mengetahui temuan komite tersebut dan menolak berkomentar mengenai apakah Malaysia dapat memaksa pembatalan perjanjian tersebut.
“Saya pikir Malaysia, sebagai negara yang mendukung Palestina, akan meneliti hal ini dan melihat apakah ada ketidakberesan atau sesuatu yang bertentangan dengan kebijakan luar negeri Malaysia, dan dapat mengambil tindakan setelah itu,” kata Syed Ibrahim.
Negara ini memiliki 16,1 juta ton “perkiraan cadangan” unsur tanah jarang, kata Syed Ibrahim. Pemerintah sebelumnya menyatakan bahwa cadangan tersebut diperkirakan bernilai 970 miliar ringgit atau sekitar US$237 miliar.
Sebagian besar cadangan tersebut terletak di kawasan hutan lindung, dan Malaysia saat ini sedang memetakan kawasan-kawasan tersebut serta mempelajari cara-cara untuk mengekstraksi mineral-mineral tersebut tanpa mengganggu keanekaragaman hayati, urai dia.
(bbn)



























