Logo Bloomberg Technoz

Malaysia Berpikir untuk Longgarkan Aturan Ekspor Tanah Jarang

News
03 August 2026 08:40

Seorang pekerja memindai sampel batuan di proyek eksplorasi unsur tanah jarang Meteoric Resources di Caldas Novas, Brasil./Bloomberg-Victor Moriyama
Seorang pekerja memindai sampel batuan di proyek eksplorasi unsur tanah jarang Meteoric Resources di Caldas Novas, Brasil./Bloomberg-Victor Moriyama

Kanupriya Kapoor dan Netty Ismail–Bloomberg News

Bloomberg, Malaysia tengah mempertimbangkan untuk mengizinkan sebagian ekspor mineral tanah jarang (rare earth) guna memperkuat posisinya dalam rantai pasokan yang memasok berbagai industri, mulai dari manufaktur mobil hingga pertahanan dan barang konsumsi.

Malaysia  memberlakukan moratorium ekspor logam tanah jarang mentah pada tahun 2024 untuk mendorong lebih banyak investasi dalam pengolahan domestik — sebuah strategi yang umum diterapkan oleh negara-negara berkembang yang kaya sumber daya. Namun, menurut seorang pejabat senior pemerintah, pihak berwenang kini sedang menilai kelayakan pelonggaran pembatasan tersebut seiring dengan memanasnya persaingan untuk mendapatkan mineral tersebut.


“Tekanan itu sudah ada, baik dari negara bagian Malaysia maupun para investor,” kata Wakil Menteri SDA dan Keberlanjutan Lingkungan Syed Ibrahim Syed Noh kepada Bloomberg News dalam sebuah wawancara. “Mereka sudah mengetuk pintu,” ujarnya, merujuk pada minat dari AS, Australia, Prancis, dan India.

Beijing memicu perebutan logam tanah jarang dalam skala global tahun lalu ketika memberlakukan pembatasan ekspor terhadap mineral tersebut untuk melawan perang dagang dengan AS. Negara-negara dengan cadangan yang signifikan sedang mencari cara untuk mendapatkan keuntungan saat negara-negara ekonomi utama menjelajahi seluruh dunia untuk mencari deposit yang layak, dan Presiden AS Donald Trump menandatangani pakta mineral kritis dengan Malaysia dalam kunjungannya ke negara tersebut tahun lalu.