Logo Bloomberg Technoz

Untuk mendukung hal tersebut, BEI terus melakukan pendekatan kepada perusahaan potensial dari berbagai sektor melalui program edukasi, coaching clinic, one-on-one meeting, hingga pendampingan menuju IPO. Bursa juga terus menyempurnakan regulasi agar proses go public semakin efisien tanpa mengurangi perlindungan investor maupun kualitas tata kelola perusahaan.

Adapun, berdasarkan data BEI per 23 Juli 2026, sepanjang tahun ini baru terdapat tujuh perusahaan yang mencatatkan saham melalui IPO. Sementara itu, masih terdapat empat perusahaan dalam pipeline pencatatan saham, yang terdiri atas dua perusahaan sektor kesehatan, satu perusahaan konsumer non siklikal dan satu perusahaan sektor industri. Dari sisi skala aset, dua perusahaan memiliki aset di bawah Rp50 miliar, sedangkan dua lainnya memiliki aset di atas Rp250 miliar.

Minimnya kehadiran IPO berkapitalisasi besar sebelumnya menjadi sorotan di tengah lesunya aktivitas perdagangan di BEI. Deputy Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management Triwira Tjandra menilai kondisi tersebut lebih tepat dipandang sebagai dampak dari situasi pasar yang menantang, bukan penyebab utama terbatasnya ruang gerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"Minimnya IPO berukuran besar lebih tepat dilihat sebagai gejala kondisi pasar yang menantang, bukan penyebab utama terbatasnya ruang gerak IHSG," kata Triwira.

Triwira mengatakan, pergerakan IHSG sepanjang tahun ini lebih banyak dipengaruhi oleh arus keluar dana asing, tekanan terhadap rupiah, arah kebijakan moneter yang ketat, serta sentimen global. Ia juga menilai kehadiran IPO jumbo tidak otomatis mampu mengangkat indeks karena bobot emiten baru terhadap IHSG masih relatif kecil pada awal pencatatan.

Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia mengatakan persoalan utama bukan terletak pada sedikitnya jumlah IPO, melainkan terbatasnya emiten baru yang memenuhi kebutuhan investor institusi.

"Masalah utamanya adalah terbatasnya saham baru yang memenuhi kebutuhan institusi dari sisi kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, kualitas fundamental, dan tata kelola," ujar Liza.

Liza menyebut, IPO berukuran besar tetap dibutuhkan untuk memperdalam pasar modal, memperluas pilihan sektor investasi, dan menarik kembali minat investor institusi. Namun, ia menekankan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar IPO berskala jumbo, melainkan emiten dengan valuasi yang wajar, free float memadai, likuiditas yang baik, serta tata kelola perusahaan yang memenuhi standar investor institusi.

(cpa/ell)

No more pages