Logo Bloomberg Technoz

"Industri hilirisasi nikel Indonesia telah berkembang sangat masif sejak pemerintah memberlakukan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2014 hingga saat ini. Jauh bila dibandingkan dengan progres pada komoditas bauksit," tuturnya.

Dia menambahkan percepatan kapasitas produksi pengolahan dan pemurnian nikel mengalami lonjakan drastis dalam kurun lima tahun terakhir.

Lonjakan tersebut mencakup teknologi pengolahan jalur pirometalurgi maupun hidrometalurgi atau high-pressure acid leach (HPAL).

"Antara 2020 hingga 2025 saja, Indonesia telah berhasil menambah kapasitas terpasang fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel sekitar 1,5 juta ton Ni [nikel murni], dengan total kapasitas terpasang hingga 2025 sebanyak 2,7 juta ton Ni," kata Arif.

Total kapasitas 2,7 juta ton Ni tersebut terdiri atas 2,1 juta ton produk nickel pig iron (NPI), ferronickel (FeNi), serta nickel matte, dan sisanya sebesar 400.000 ton berupa mixed hydroxide precipitate (MHP) dan nikel sulfat.

Prospek ke Depan

Menatap prospek ke depan, FINI optimistis bahwa arus modal masuk ke sektor nikel masih akan terus mengalir deras.

Arif menyebut, pengembangan fasilitas pengolahan berbasis HPAL diproyeksikan bakal menelan investasi bernilai fantastis dalam beberapa tahun mendatang.

"Penambahan kapasitas HPAL periode 2026—2028 akan memerlukan tambahan investasi sekitar US$20 miliar," ungkap Arif.

Selain penambahan kapasitas pengolahan dasar, arah investasi nikel juga dipastikan bergeser ke produk turunan yang lebih bernilai tinggi.

Hal ini sejalan dengan penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) No. 28/2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, yang dalam implementasinya dipakai pemerintah untuk membatasi izin investasi baru smelter nikel.

"Ke depan, dengan terbitnya PP No. 28/2025, investasi di bidang industri nikel akan lebih didorong ke industri yang jauh lebih hilir lagi untuk menghasilkan produk-produk dengan nilai tambah lebih tinggi, seperti stainless steel, nikel sulfat, prekursor, katoda, hingga baterai untuk kendaraan listrik," pungkasnya.

Sebelumnya, berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, investasi hilirisasi bauksit di dalam negeri untuk pertama kalinya menjadi komoditas dengan realisasi investasi hilirisasi terbesar di Indonesia, menggeser investasi hilirisasi nikel yang selama ini mendominasi investasi sektor pengolahan mineral.

Investasi pada sektor bauksit menjadi motor utama pertumbuhan investasi nasional pada kuartal II-2026 dengan mencatatkan realisasi mencapai Rp40,1 triliun. Angka tersebut melonjak 193% dibandingkan kuartal-I 2026 yang sebesar Rp13,7 triliun.

Adapun, posisi sektor bauksit disusul oleh nikel yang mencatatkan realisasi investasi sebesar Rp29,4 triliun, tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lainnya seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.

(smr/wdh)

No more pages