Logo Bloomberg Technoz

“Saat ini masih banyak UMKM yang bergantung pada pembiayaan informal dengan biaya yang jauh lebih mahal,” ungkapnya.

Karena itu, dia menyebut peningkatan kapasitas (capacity building) bagi pelaku UMKM menjadi sangat penting.

Tak hanya itu, permasalahan lainnya yang dia soroti yakni UMKM yang dijalankan generasi muda relatif cepat beradaptasi dengan digitalisasi. Destry berpandangan, secara keseluruhan, tingkat adopsi digital UMKM masih perlu terus ditingkatkan.

“Saya pernah membeli tahu goreng dan singkong goreng di pedagang gerobak. Ketika hendak membayar, ternyata beliau sudah menggunakan QRIS,” tuturnya.

“Saya sempat bertanya, 'Bapak sudah pakai QRIS?' Beliau menjawab 'Sudah, Bu. Lebih praktis, tidak perlu menyiapkan uang kembalian',” paparnya. 

Dalam kaitan itu, Destry menuturkan, dirinya sempat mengingatkan pedagang tersebut agar menempatkan QR Code di lokasi yang aman agar tidak diganti oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Menurutnya, hal-hal sederhana seperti itu perlu terus diedukasi agar penggunaan sistem pembayaran digital benar-benar memberikan manfaat.

Permasalahan lainnya yakni akses pasar. Destry memandang sebagian besar UMKM masih menghadapi keterbatasan dalam memperluas pasar, bahkan untuk memenuhi kebutuhan domestik apalagi untuk ekspor.

Dia mencatat dari sekitar 64 juta UMKM, hanya sebagian kecil yang telah mampu menembus pasar ekspor. Salah satu yang cukup berhasil adalah kopi Indonesia. Padahal kopi Indonesia sangat dikenal di luar negeri karena memiliki cita rasa yang beragam. 

Namun jumlah barista bersertifikat maupun pelaku usaha kopi yang memenuhi standar internasional masih terbatas. 

“Padahal, apabila ingin masuk ke pasar global, kualitas produk dan sumber daya manusianya juga harus terus ditingkatkan,” imbuhnya. 

(lav)

No more pages