Ekonom Beber Dampak Kebijakan Insentif Swap Hedging BI
Mis Fransiska Dewi
23 July 2026 15:05

Bloomberg Technoz, Jakarta - Ekonom mengungkapkan alasan Bank Indonesia (BI) memilih memberikan insentif berupa biaya lindung nilai (hedging) yang lebih murah bagi investor asing, alih-alih menaikkan suku bunga. Menurutnya, kebijakan tersebut lebih efektif dari sisi biaya pendanaan (cost of funds), lebih berdampak langsung terhadap aliran modal asing, serta tidak membebani sektor riil.
Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafni menyebut jika salah satu pertimnbangan BI memilih insentif tersebut adalah untuk menghindari dampak kenaikan suku bunga terhadap sektor riil. Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan alias BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) bersifat blunt instrument menyeluruh namun memiliki efek samping yang luas.
“Jika suku bunga acuan dinaikkan, maka biaya pinjaman di perbankan akan ikut terkerek naik. Sektor usaha dan dunia korporasi akan terbebani oleh mahalnya biaya kredit, yang pada gilirannya dapat mengerem momentum pertumbuhan ekonomi domestik,” kata Rahma ketika dihubungi, Kamis (23/7/2026).
Sebaliknya, ketika BI menerapkan insentif swap hedging, maka kebijakan tersebut terarah yang langsung menyasar investor portofolio asing tanpa harus menaikkan beban bunga pinjaman di dalam negeri.
Dia menjelaskan investor asing yang menanamkan modalnya di instrumen rupiah seperti sekuritas rupiah bank Indonesia (SRBI) atau surat berharga negara (SBN), yang paling dikhawatirkan bukanlah tingkat imbal hasil (yield) yang kurang tinggi, melainkan risiko fluktuasi nilai tukar (kurs) saat mereka ingin menarik kembali dananya ke dolar AS.

































