Walakin, pengembangan smelter aluminium membutuhkan investasi modal yang sangat besar dan infrastruktur energi yang matang.
Berikut adalah daftar pipeline proyek smelter aluminium di Indonesia lengkap dengan target jadwal penyelesaian operasi komersial atau commercial operation date (COD) masing-masing proyek:
1. PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI)
PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI), yang merupakan anak usaha dari PT Adaro Minerals Indonesia Tbk. (ADMR), berlokasi di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Proyek smelter aluminium ini menelan investasi sekitar US$2 miliar untuk Tahap I, dengan target kapasitas produksi awal sebesar 500.000 ton per tahun dan akan ditingkatkan hingga mencapai total 1,5 juta ton per tahun secara bertahap.
Saat ini status proyek berada dalam tahap konstruksi dan komisioning bertahap, di mana Tahap I ditargetkan beroperasi pada akhir 2025 hingga 2026, sedangkan kapasitas penuh sebesar 1,5 juta ton diperkirakan akan rampung pada kisaran tahun 2028 hingga 2030.
2. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) – Smelter Terintegrasi Mempawah
Inalum mengembangkan smelter aluminium terintegrasi yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Proyek ini dirancang untuk memiliki kapasitas produksi hingga 600.000 ton aluminium per tahun yang terintegrasi langsung dengan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 1 dan 2.
Menjadi bagian dari nilai investasi jumbo sebesar Rp110 triliun di bawah konsorsium PT Mineral Industri Indonesia (MIND ID), proyek ini melaksanakan groundbreaking pada awal 2026.
Target operasinya dijadwalkan berlangsung antara 2028 hingga 2029, dengan menyesuaikan tingkat kesiapan pasokan listrik atau PLTU serta infrastruktur pendukung di kawasan tersebut.
3. PT Inalum – Ekspansi & Upgrading Kuala Tanjung
Selain di Mempawah, Inalum juga melakukan ekspansi dan upgrading pada fasilitas smelter eksisnya di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Sumatra Utara.
Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dari yang sebelumnya 250.000 ton menjadi 500.000 ton aluminium per tahun.
Saat ini, status pengerjaannya fokus pada modernisasi dan upgrading pot reduksi serta optimalisasi energi.
Proses peningkatan pot dilakukan secara bertahap sejak 2024 hingga 2026, dan target untuk mencapai kapasitas penuh 500.000 ton ditargetkan terealisasi pada periode 2028—2029.
4. PT Bintan Alumina Indonesia (BAI)
PT Bintan Alumina Indonesia (BAI), yang berada di bawah naungan Grup Nanshan/Press Metal, mengembangkan smelter aluminium di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Galang Batang, Bintan, Kepulauan Riau.
Dengan investasi senilai lebih dari US$1,5 miliar, smelter ini dirancang terintegrasi langsung dengan kilang pemurnian alumina (alumina refinery) dan mematok target kapasitas penuh hingga 1 juta ton aluminum ingot per tahun.
Saat ini proyek berada dalam tahap pengembangan lanjutan, dengan fase awal berkapasitas 250.000 ton yang ditargetkan mulai berjalan pada 2026—2027, serta pencapaian kapasitas penuh ditargetkan terealisasi sekitar 2030.
5. PT Huachin Aluminum Indonesia
PT Huachin Aluminum Indonesia, bagian dari Grup Tsingshan, membangun fasilitas smelter aluminium di Kawasan Industri IMIP/IWIP.
Proyek bernilai investasi sekitar US$800 juta hingga US$1 miliar ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi sebesar 250.000 hingga 500.000 ton aluminium per tahun. Saat ini status pengerjaan telah memasuki tahap konstruksi dan komisioning untuk modul awal.
Fase 1 dengan kapasitas 250.000 ton dilaporkan sudah mulai memasuki tahap komisioning atau operasi bertahap pada rentang 2025—2026, yang kemudian akan dilanjutkan ke fase berikutnya pada rentang 2026—2027.
Sebagai informasi, sebelumnya pada 2025, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan terdapat tujuh proyek smelter bauksit di Indonesia yang progres pembangunannya belum mencapai 60%.
Kondisi ini menjadi sorotan serius dalam evaluasi hilirisasi mineral, terutama setelah larangan ekspor bijih bauksit resmi diberlakukan sejak Juni 2023.
“Sebetulnya banyak yang belum jalan karena memang tidak dapat investor. Ini realitas yang kita hadapi. Masih dalam proses pencarian investor untuk pendanaan,” ujar Tri dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XII DPR RI, Rabu (30/4/2025).
Berikut tujuh proyek smelter bauksit yang saat ini tercatat progresnya masih stagnan:
- PT Dinamika Sejahtera Mandiri – Sanggau, Kalimantan Barat
- PT Laman Mining – Ketapang, Kalimantan Barat
- PT Kalbar Bumi Perkasa – Sanggau, Kalimantan Barat (izin usaha pertambangan telah dicabut)
- PT Parenggean Makmur Sejahtera – Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah
- PT Persada Pratama Cemerlang – Sanggau, Kalimantan Barat
- PT Quality Sukses Sejahtera – Pontianak, Kalimantan Barat
- PT Sumber Bumi Marau – Ketapang, Kalimantan Barat
(smr/wdh)






























