Logo Bloomberg Technoz

Adapun keputusan investor institusi menempatkan dana lebih banyak ditentukan oleh tingkat risiko dan prospek fundamental dibandingkan ketersediaan saham baru.

"Ketika sentimen membaik pada Juli, likuiditas kembali membaik dengan rata-rata transaksi harian naik ke kisaran Rp14 triliun. Artinya, likuiditas institusi bergerak mengikuti selera risiko dan prospek fundamental," ujar Triwira Tjandra dikutip, Kamis (23/7/2026).

Menurut Triwira, arah pasar pada paruh kedua tahun ini akan bergantung pada stabilitas rupiah, kelanjutan pelonggaran moneter, arus dana asing, hasil rapat Federal Reserve pada akhir Juli, serta kualitas laporan keuangan kuartal II emiten. Di sisi lain, pergerakan harga minyak dan dinamika geopolitik global masih menjadi risiko yang perlu dicermati investor.

Emiten Baru yang Penuhi Kriteria Institusi

Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia menilai persoalan utama bukan terletak pada sedikitnya jumlah IPO, melainkan terbatasnya emiten baru yang memenuhi kriteria investasi institusi.

"Masalah utamanya adalah terbatasnya saham baru yang memenuhi kebutuhan institusi dari sisi kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, kualitas fundamental, dan tata kelola," ujar Liza.

Adapun hingga akhir Juni 2026, jumlah emiten yang melantai di BEI baru mencapai tujuh perusahaan. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan 18 IPO sepanjang 2025 dan 35 IPO pada 2024.

Akibatnya, dana investor institusi cenderung berputar pada saham-saham berkapitalisasi besar yang sama sehingga transaksi semakin terkonsentrasi. Kondisi itu membuat sejumlah saham mengalami crowding dan volatilitas tinggi, sementara banyak saham lainnya tetap sepi meski IHSG bergerak menguat.

Meski demikian, Liza menegaskan minimnya IPO jumbo bukan faktor utama yang menentukan arah pergerakan IHSG. "Pergerakan IHSG tetap lebih banyak ditentukan oleh aliran dana asing, rupiah, prospek laba emiten, suku bunga, serta kepercayaan terhadap tata kelola pasar," katanya.

Liza mengatakan, IPO berukuran besar tetap diperlukan untuk memperdalam pasar modal, menghadirkan pilihan sektor baru, dan menarik kembali minat investor institusi. Namun, yang dibutuhkan bukan sekadar IPO berskala jumbo, melainkan emiten dengan valuasi yang wajar, free float memadai, likuiditas yang baik, serta tata kelola perusahaan yang dapat diterima investor institusi.

*Dengan asistensi Nyoman Ari Wahyudi*

(roy)

No more pages