Logo Bloomberg Technoz

Transaksi Belum Sepenunya Pulih, Efek Suplai IPO Menipis?

Cahya Puteri Abdi Rabbi
23 July 2026 11:05

Pegawai beraktivitas di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)
Pegawai beraktivitas di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (4/6/2026). (Bloomberg Technoz/Andrean Kristianto)

Bloomberg Technoz, Jakarta - Minimnya penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) berukuran besar dinilai bukan menjadi penyebab utama lesunya aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Likuiditas pasar dinilai lebih dipengaruhi oleh masih tingginya kehati-hatian investor, terutama investor asing, di tengah berbagai ketidakpastian domestik maupun global.

Hal itu tercermin dari tren penurunan rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) sepanjang semester I-2026. RNTH yang sempat mencapai Rp34,91 triliun pada Januari turun menjadi Rp25,62 triliun pada Februari, kemudian menyusut lagi menjadi Rp20,66 triliun pada Maret dan Rp18,51 triliun pada April. Meski sempat meningkat ke Rp22,86 triliun pada Mei, nilainya kembali berada di kisaran Rp22,23 triliun pada Juni.

Di saat yang sama, investor asing masih membukukan jual bersih (net sell) sekitar Rp19,63 triliun sepanjang Juni, menunjukkan minat investor global terhadap pasar saham domestik belum sepenuhnya pulih.


Deputy Chief Investment Officer Sinarmas Asset Management, Triwira Tjandra menyampaikan bahwa minimnya IPO berkapitalisasi besar lebih tepat dipandang sebagai dampak dari kondisi pasar yang menantang, bukan penyebab utama terbatasnya ruang gerak IHSG.

Pergerakan IHSG sepanjang tahun ini lebih banyak dipengaruhi oleh arus keluar dana asing, tekanan terhadap rupiah, arah kebijakan moneter yang ketat, serta sentimen global. Selain itu, bobot emiten baru terhadap indeks juga relatif kecil pada awal pencatatan sehingga kehadiran IPO jumbo tidak otomatis mampu menggerakkan IHSG.