Logo Bloomberg Technoz

Ada DSI, Administrasi Ekspor Batu Bara-FeNi Berpotensi Kian Rumit

Azura Yumna Ramadani Purnama
23 July 2026 09:40

Karung-karung feronikel yang akan dikirim di fasilitas pelabuhan Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian
Karung-karung feronikel yang akan dikirim di fasilitas pelabuhan Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Bloomberg Technoz, Jakarta – Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) menilai PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) hanya menambah urusan administrasi ekspor batu bara hingga feronikel (FeNi), hingga akhirnya administrasi ekspor berisiko menjadi berbelit.

Direktur Eksekutif Pushep Bisman Bakhtiar menilai kemunculan DSI sebagai lembaga pemantau ekspor komoditas strategis berpotensi menambah beban administrasi jika akhirnya proses ekspor malah menjadi lebih panjang dan lebih birokratis.

Dia juga khawatir DSI bakal menambah biaya ekspor yang dilakukan, sehingga justru kontraproduktif dengan tujuan pembentukkan DSI untuk mencegah dan menekan underinvoicing dalam kegiatan ekspor sumber daya alam (SDA) strategis.


“Karena sudah ada Simbara, sistem yang terintegrasi.  Untuk itu, biar tidak menambah panjang proses, DSI harus jadi bagian subsistem tersebut. Jadi bukan malah menambah proses, tetapi memperkuat sistem,” kata Bisman ketika dihubungi, Kamis (23/7/2026).

Tongkang pengangkut batu bara ditambatkan di Sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia./Bloomberg-Dimas Ardian

Dia juga menyatakan Indonesia selama ini sudah memiliki sistem pengawasan ekspor terintegrasi, yaitu Sistem Informasi Mineral dan Batu Bara Antar-Kementerian/Lembaga (Simbara).