"Saat ini kami memproyeksikan pertumbuhan sebesar 3% secara tahunan [year on year/yoy], jauh di bawah rata-rata lima tahun sebesar 23,2%."
Sulfur sendiri digunakan sebagai bahan baku dalam produksi produk antara nikel seperti mixed hydroxide precipitate (MHP), melalui proses pelindian asam bertekanan tinggi. Memproduksi 1 ton MHP membutuhkan sekitar 11,7 ton sulfur. Adapun, MHP merupakan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Makan Korban
Persoalan tekanan di industri smelter hidrometalurgi di Tanah Air sudah terdeteksi dalam beberapa bulan terakhir. Zhejiang Huayou Cobalt Co., misalnya, mengumumkan penyetopan sejumlah lini produksi di smelter nikelnya di Indonesia Wedabay Industrial Park (IWIP), yaitu PT Huafei Nickel Cobalt, mulai 1 Mei 2026.
Dalam pengumumannya, Huayou menyatakan penyetopan sementara smelter nikel hidrometalurgi berbasis HPAL tersebut dilakukan gegara terdapat lonjakan harga sulfur.
Ketika sejumlah lini produksi smelter Huafei tidak beroperasi, Huayou bakal melakukan pemeliharaan terhadap lini produksi tersebut.
Mengutip laporan tahunan Huayou, Huafei memiliki kapasitas produksi sebesar 120.000 ton MHP per tahun. Bahkan, Huayou mengklaim smelter tersebut merupakan pabrik pengolahan bijih nikel laterit terbesar di dunia.
Beberapa lini produksi smelter tersebut awal berproduksi pada Juni 2023, hingga akhirnya target produksi sebesar 120.000 ton diklaim tercapai pada akhir kuartal I-2024.
Sekadar informasi, Shanghai Metals Market (SMM) dalam risetnya melaporkan harga acuan sulfur yang tiba di pelabuhan Indonesia pada 10 Juni mencapai US$1.250—US$1.300 per metrik ton (mt) dan turun ke level US$1.100—US$1.200 per mt pada 25 Juni 2026.
SMM mencatat harga sulfur telah naik lebih dari 126% sepanjang semester I-2026, di mana harga sulfur pada awal tahun ini berada di sekitar US$563 per mt.
Gegara kondisi tersebut, produksi MHP dari smelter HPAL Indonesia turun menjadi 29.900 ton nikel pada Juni 2026, dari besaran Januari 2026 sebesar 42.000 ton nikel.
SMM juga mencatat Indonesia mengimpor sekitar 1,23 juta ton sulfur pada Januari hingga April 2026. Sementara itu, pada Mei 2026, impor sulfur diproyeksi mencapai 350.000 ton yang mencerminkan permintaan masih cukup kuat meski harga sedang tinggi.
SMM mencatat impor sulfur Indonesia berasal dari negara-negara Timur Tengah, antara lain; Oman, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar.
Untuk memenuhi kebutuhan domestik, Indonesia mengimpor sekitar 75% sulfur dari luar negeri.
SMM turut mencatat impor asam sulfat sepanjang Januari—Mei 2026 mencapai 449.000 ton, atau mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut dinilai memandanakan smelter HPAL mulai beralih ke asam sulfat sebagai alternatif di tengah ketatnya pasokan sulfur.
Adapun, kenaikan harga sulfur dipengaruhi oleh penutupan Selat Hormuz yang dilakukan sejak perang antara Iran–Amerika Serikat (AS) pecah.
Sekitar 25% produksi sulfur global dipasok dari negara Timur Tengah dan 45% perdagangan sulfur melalui jalur tersebut.
Selama masa blokade, SMM memperkirakan terdapat 800.000 hingga 1 juta metrik ton kargo sulfur menumpuk di Teluk Persia.
Selama periode perang tiga setengah bulan, total pengiriman sulfur hanya mencapai 80.000 metrik ton.
Usai kembali dibukanya Hormuz, SMM mencatat sekitar 640.000 metrik ton sulfur telah keluar melalui selat tersebut.
Akan tetapi, SMM memprediksi pemulihan penuh pasokan sulfur membutuhkan waktu, bahkan diprediksi belum terjadi sebelum Agustus 2026.
(wdh)
































