Panen Padi Petani Rorotan, Nikmati Kenaikan Gabah di Masa Kemarau
Andrean Kristianto
03 September 2026 15:40
Bloomberg Technoz, Jakarta - Suara mesin perontok padi terdengar dari tengah persawahan Rorotan, Jakarta Utara, Kamis (3/9) pagi. Di antara batang-batang padi yang menguning, petani bergerak mengumpulkan hasil panen, memasukkannya ke dalam karung, lalu mengangkutnya keluar dari sawah.
Sejak pukul 07.30 WIB, beberapa petani telah menunggu di saung sebelum akhirnya turun ke lahan membawa karung dan mesin perontok. Sebagian lainnya mengarit padi yang telah siap dipanen, mengumpulkannya, kemudian memasukkannya ke mesin untuk memisahkan gabah dari jerami.
Baca Juga
Karung yang mulai terisi gabah dipindahkan dari persawahan menggunakan sepeda motor yang telah dimodifikasi menyerupai sepeda motor trail. Kendaraan tersebut hilir mudik membawa hasil panen petani, sementara aktivitas memanen terus berlangsung di lahan.
Panen di Rorotan berlangsung saat sejumlah daerah di Indonesia menghadapi gagal panen (puso) akibat musim kemarau panjang dan kekurangan pasokan air irigasi. Persawahan di kawasan Rorotan masih mendapatkan pasokan air sehingga petani dapat memanen padi pada musim ini.
Situasi tersebut turut membuat harga gabah meningkat karena pasokan dari sejumlah daerah berkurang akibat kekeringan. “Sekarang Rp7.000 perkilo di petani, itu baru satu tangan, kalau dua tangan mahalan lagi kalau sampai ke penggilan bisa Rp8.500 perkilo. Harga standarnya biasanya Rp6.500 perkilo,” kata Mita (67), salah seorang petani di Rorotan, Jakarta Utara kepada Bloomberg Technoz, Kamis (3/9).
Di tengah kelancaran panen dan pasokan air yang masih tersedia, petani tetap berhadapan dengan hama di persawahan.
“Kalau masalah panen ada kendala, buat petani hama musuh utama itu keong, kedua burung ada juga tikus,” lanjutnya.
(dre)




























