Sebab, peningkatan kegiatan usaha didorong oleh sektor pertanian yang memang sedang menikmati musim panen di berbagai sentra produksi. Di sisi lain, konstruksi juga memperoleh dukungan dari proyek pemerintah maupun swasta, sementara pertambangan terbantu oleh kondisi cuaca, serta sektor akomodasi dan makan minum mendapatkan momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta adanya musim liburan sekolah.
Indikasi tersebut tampak dari sisi kapasitas produksi. Utilisasi kapasitas produksi hanya naik tipis menjadi 73,8% pada kuartal ini, dari 73,33% dari kuartal sebelumnya. Kenaikan 0,47 poin persentase memang menunjukkan adanya perbaikan aktivitas produksi, tetapi belum mencerminkan adanya permintaan yang cukup tinggi dari konsumen.
Umumnya, perusahaan hanya akan mempertimbangkan ekspansi kapasitas jika utilisasi mendekati 80% hingga 85%. Namun, dengan utilisasi saat ini yang masih berada di kisaran 74%, sepertinya dunia usaha masih punya ruang produksi yang cukup besar tanpa harus membangun fasilitas baru. Artinya, perusahaan masih mampu memenuhi permintaan pasar dengan hanya mengoptimalkan aset yang sudah ada.
Kondisi tersebut yang menggambarkan mengapa investasi belum terlihat benar-benar melesat. Memang SBT investasi meningkat tipis menjadi 5,46% dari posisi sebelumnya 5,39%. Namun kalau ditarik secara semesteran, persentase perusahaan yang melakukan investasi malahan tercatat turun cukup tajam menjadi 18,86% pada semester I-2026, dari semester II-2025 yang sebesar 24,83%.
Begitu juga dengan nilai investasi yang dilakukan pelaku usaha yang relatif tinggi dengan saldo bersih 51,16%. Namun angka ini turun jika dibandingkan capaian semester sebelumnya yang sebesar 65,29%.
Sepertinya, investasi cenderung terkonsentrasi pada perusahaan besar yang masih punya ruang ekspansi. Sebaliknya, tak sedikit juga perusahaan yang lebih memilih menunda belanja modal lantaran adanya ketidakpastian ekonomi.
Pandangan tersebut diperkuat dengan jawaban responden yang menilai adanya hambatan investasi. Selain kondisi ekonomi dan geopolitik global, pelaku usaha masih menempatkan suku bunga (16,16%) dan perizinan (16,07%) sebagai dua faktor utama yang menghambat realisasi investasi.
Bahkan, persoalan perizinan hampir setara dengan beban bunga sebagai kendala terbesar. Hal ini menunjukkan bahwa tantangan investasi di Indonesia tak cuma berasal dari tingginya biaya modal, tetapi juga masih terdapat hambatan struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Ketenagakerjaan Melambat
Di tengah ketidakpastian ekonomi dan penundaan ekspansi, kehati-hatian dunia usaha semakin jelas terlihat dari rendahnya perekrutan tenaga kerja. Meski kegiatan usaha meningkat, SBT penggunaan tenaga kerja malah turun jadi hanya 0,14% pada kuartal ini, dari posisi kuartal sebelumnya sebesar 0,28%.
Dengan kata lain, perusahaan memang memproduksi barang dan jasa lebih banyak, tetapi sepertinya belum merasa perlu melakukan perekrutan dalam jumlah besar. Hal ini juga mengindikasikan bahwa efisiensi operasional menjadi pilihan lebih aman daripada memperbesar biaya di tengah lesunya daya beli saat ini.
Sektor manufaktur malah menggambarkan sinyal yang lebih lesu. Meski aktivitas industri pengolahan tumbuh dengan SBT 1,34%, tetapi penggunaan tenaga kerja sektor ini justru berada di zona kontraksi dengan SBT -0,54%.
BI juga mencatat Prompt Manufacturing Index (PMI-BI) masih berada di fase ekspansi di 51,43%. Namun lajunya melambat karena lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di 52,03%.
PMI Bank Indonesia merupakan indikator yang mengukur kondisi terkini sektor manufaktur. Jika nilainya di atas 50, berarti aktivitas manufaktur sedang berkembang atau berekspansi, sedangkan di bawah 50 menunjukkan bahwa sektor ini sedang mengalami kontraksi.
Margin Usaha Tergerus
Di samping perlambatan ekspansi manufaktur, data SKDU juga mencatat penurunan Saldo Bersih. Saldo Bersih (SB) likuiditas, yang menggambarkan likuiditas perusahaan, ikut turun menjadi 15,03% dari posisi sebelumnnya 17,05%, sementara SB rentabilitas atau kemampuan menghasilkan laba ikut turun menjadi 11,87% dari 14,87%.
Memang, responden masih menganggap akses terhadap kredit perbankan relatif mudah, meski indikatornya cenderung melemah menjadi 2,45% dari sebelumnya 4,84%.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa perusahaan masih punya kas cukup untuk membiayai operasional, tetapi kemampuan mencetak keuntungan mulai tertekan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh tingginya biaya operasional yang tidak bisa diteruskan kepada konsumen.
Sejalan dengan tekanan harga jual yang juga melonjak cukup tajam menjadi 22,38% dari posisi sebelumnya 15,82% pada kuartal sebelumnya. Namun demikian, tekanan ini diproyeksikan kembali turun pada kuartal ketiga tahun ini.
Tingginya tekanan harga jual ini mengindikasikan bahwa inflasi yang dirasakan produsen lebih banyak berasal dari sisi biaya (cost-push inflation), bukan lantaran ada lonjakan permintaan konsumen (demand-pull inflation).
Meski demikian, pelaku usaha memperkirakan inflasi relatif aman berada di 3,07%, yang maish berada dalam rentang target BI 2,5%±1%. Setidaknya, dunia usaha masih melihat terjaganya stabilitas harga meski terdapat kenaikan biaya konsumsi.
Dengan begitu, SKDU kuartal ini menggambarkan bahwa ekonomi Indonesia sepertinya sedang berada dalam proses pemulihan, meski belum memasuki fase ekspansi yang benar-benar kuat. Aktivitas usaha memang meningkat, tapi belum diikuti lonjakan investasi, penciptaan lapangan kerja, ataupun peningkatan profitabilitas perusahaan.
Dengan kata lain, ekonomi Indonesia masih bisa dikatakan tumbuh. Namun mesin pertumbuhannya belum sepenuhnya digerakkan oleh sektor swasta.
Menjadi tantangan bagi otoritas karena sepertinya pekerjaan rumah bukan cuma menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif, tetapi juga memastikan pertumbuhan ini makin berkualitas, lebih merata, dan cukup kuat untuk mendorong dunia usaha keluar dari mode defensif menjadi lebih ekspansif.
(dsp/aji)































