Taufik juga melaporkan stok BBM nasional per 16 Juli mencapai 3,61 juta kiloliter (kl) atau dalam level yang memadai.
Dia menegaskan sedang mencermati fenomena kenaikan konsumsi Pertalite yang mencapai 104% pada Juli 2026 dibandingkan dengan periode penyaluran normal. Terlebih, penyaluran Solar juga ikut naik hingga 105% pada Juli dari periode normal.
“Kami juga mencermati bahwa realisasi penyaluran pada Juli untuk beberapa produk berada di atas konsumsi normal. Penyaluran Pertalite sudah tercatat 104% dari throughput harian dan juga Solar atau Biosolar sekitar 105%. Namun demikian, peningkatan penyaluran tersebut masih dapat dilayani dan terus monitor secara harian,” ujar Taufik.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pemasaran PPN Eko Ricky Susanto mencatat terjadi perubahan konsumsi BBM dari jenis nonsubsidi menjadi bersubsidi.
Pada Juli 2026, penyaluran Pertalite naik 9,4% atau sekitar 7.129 kiloliter (kl) dan penyaluran Pertamax turun 18% atau sejumlah 4.476 kl dibandingkan dengan periode Januari—Mei 2026.
Pada periode yang sama, pangsa konsumsi Pertalite naik 4,9% menjadi 80,4% dari sebelumnya 75,4%; sedangkan Pertamax justru turun 4,4% menjadi 18,4% dari sebelumnya 23,2%.
“Dampaknya adalah saat ini [konsumsi] produk-produk BBM JBU [Jenus Bahan Bakar Umum/nonsubsidi] khususnya Pertamax series terjadi penurunan hampir 18% dibandingkan dengan periode sebelumnya,” kata Eko.
Dalam bahan paparannya, Eko menjelaskan tren peralihan konsumsi BBM nonsubsidi ke bersubsidi terjadi usai penyesuaian harga Pertamax pada 10 Juni 2026 sebesar 32% menjadi Rp16.250 per liter.
Selain itu, Eko melaporkan rerata penyaluran Solar pada Juli 2026 naik 13,9% atau 6.725 kl per hari dari rerata normal. Dalam waktu yang sama, produk Dex Series penyalurannya turun 6,4% atau 232 kiloliter per hari dari rerata normal.
Dengan begitu, proporsi konsumsi Solar naik 1,2% menjadi 94,2% dari sebelumnya 93%. Sementara itu, pangsa konsumen Dexlite turun 0,6% menjadi 3,5% dari sebelumnya 4,1%.
"Perilaku ini selain juga perubahan shifting dari konsumen ke sektor kendaraan juga ada beberapa sektor kendaraan yang didominasi industri juga mulai mengisi ke Biosolar di SPBU. Ini salah satu terjadi peningkatan lonjakan hampir di semua provinsi sepanjang periode April hingga bulan Juli,” tegasnya.
Berdasarkan data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), saat ini kapasitas penyimpanan BBM nasional mencapai 9,16 juta kl.
BPH Migas mencatat, dari besaran itu, sebanyak 67% atau 6,1 juta kl di antaranya merupakan milik Pertamina, sementara 33% penyimpanan BBM di RI atau 3,06 juta kl dimiliki non-Pertamina.
Selain itu, 2.05 juta penyimpanan BBM Indonesia atau sekitar 78% memiliki izin usaha penyimpanan (IUP) dan 7,1 juta lainnya memiliki izin usaha niaga umum (INU).
Dengan begitu, mayoritas tangki penyimpanan BBM Indonesia dimiliki oleh perusahaan niaga BBM atau operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).
Berikut 5 provinsi yang memiliki kapasitas penyimpanan BBM terbesar:
- Jawa Timur : 1,15 juta kiloliter
- Jawa Barat : 950.000 kiloliter
- DKI Jakarta : 910.000 kiloliter
- Kepulauan Riau : 890.000 kiloliter
- Banten : 770.000 kiloliter
(azr/wdh)




























