Logo Bloomberg Technoz

“Pergerakan saham cip ke depan masih menjadi isu paling krusial bagi pasar saham,” kata Matt Maley dari Miller Tabak. “Saham-saham tersebut jelas menunjukkan beberapa keretakan yang signifikan. Jadi, mereka harus melihat adanya pemulihan yang kuat dan berkelanjutan dalam waktu dekat, atau situasi ini akan menyalakan tanda bahaya yang nyata.”

Tingginya ketegangan geopolitik turut menahan selera risiko pasar sekaligus mengerek harga minyak pada pekan ini. Kondisi tersebut memicu kecemasan baru terkait tekanan inflasi, yang bisa mendorong Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga acuan sebelum tahun ini berakhir. Di sisi lain, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) bergerak naik pada hari Kamis, dibarengi dengan penguatan tipis mata uang dolar AS.

Indeks Semikonduktor Bursa Saham Philadelphia. (Sumber: Bloomberg)

Gubernur The Fed Bank Kansas City, Jeff Schmid, menyatakan bahwa inflasi tetap menjadi kekhawatiran terbesarnya, mengingat adanya risiko percepatan laju harga dalam beberapa bulan ke depan. Senada dengan hal tersebut, Gubernur The Fed Dallas, Lorie Logan, menyerukan perlunya suku bunga yang lebih tinggi karena inflasi dinilai belum bergerak turun secara berkelanjutan menuju target bank sentral.

Para pelaku pasar juga tengah mencermati beberapa laporan ekonomi penting. Data klaim pengangguran mingguan dilaporkan turun pada pekan lalu, sementara penjualan ritel tumbuh moderat pada bulan Juni. Angka pertumbuhan ritel tersebut sempat terseret oleh penurunan pendapatan di sektor SPBU, yang menutupi keuntungan kuat di beberapa sektor ritel lainnya.

“Meskipun menghadapi berbagai tantangan, konsumen terpantau masih berbelanja dan pasar tenaga kerja tidak menunjukkan tanda-tanda retak,” ujar Ellen Zentner dari Morgan Stanley Wealth Management. “Data seperti ini tidak akan mengubah keputusan The Fed secara signifikan, namun laporan ini menegaskan ketangguhan ekonomi AS yang terus berlanjut.”

(bbn)

No more pages