Logo Bloomberg Technoz

Hal ini terjadi di tengah tantangan yang dihadapi negara tersebut akibat penurunan angka kelahiran dan kekurangan tenaga kerja kronis.

“Prinsip dasar dalam penerapan robot bukanlah untuk menggantikan manusia, melainkan untuk bekerja sama dengan mereka,” kata Takahito Tokita, CEO Fujitsu, dalam konferensi pers yang mengumumkan kemitraan tersebut.

Para pimpinan kelima perusahaan tersebut menemukan kesepahaman, katanya. “Kami membahas ke mana arah dunia ini, apa posisi Jepang, dan bagaimana ada banyak tantangan — namun kami berlima dapat mengatasinya.”

Keempat perusahaan Jepang tersebut juga akan bergabung dengan Cosmos Coalition yang dipimpin oleh Nvidia, sebuah aliansi antara perusahaan dan lembaga penelitian yang berupaya mempercepat adopsi platform Nvidia untuk apa yang dalam industri ini disebut sebagai AI fisik.

Hal ini mencakup berbagai macam perangkat keras, mulai dari robot humanoid dan otomatisasi pabrik hingga kendaraan otonom, gedung pintar, dan sistem perkeretaapian. Hitachi Ltd., NEC Corp., Komatsu Ltd., dan Kubota Corp. juga turut bergabung dalam koalisi tersebut.

Nvidia yang berbasis di Santa Clara, California, AS, telah mengirimkan delegasi eksekutif ke Jepang pada pekanini, dipimpin oleh Jensen Huang, untuk menggencarkan bisnis dan antusiasme seputar potensi pembangunan ekosistem untuk AI fisik. 

Rencana ini akan menggabungkan chip dan perangkat AI dengan software  yang ditingkatkan untuk memungkinkan robot dan mesin otonom belajar dari serta beradaptasi dengan interaksi dengan dunia fisik.

Pengumuman ini menyusul peluncuran teknologi yang lebih luas oleh Nvidia pekan ini, yang bertujuan mempercepat pengembangan robotika. 

Produsen chip asal AS ini memperkenalkan Cosmos 3-H, versi ringkas dari model dasar globalnya untuk pengembangan AI fisik yang dirancang untuk berjalan di edge computers, serta Jetson T3000 dan T2000, komputer robotika yang ditempatkan di antara seri andalan T4000 dan platform AGX Orin.

Nvidia menyatakan bahwa Jepang dalam posisi yang tepat untuk memimpin gelombang lanjutan dalam bidang robotika karena keunggulan yang telah lama dimilikinya di bidang otomatisasi industri, manufaktur presisi, dan mekatronika. 

Kendati demikian, perusahaan-perusahaan Jepang telah kehilangan pangsa pasar di tengah persaingan yang semakin didominasi oleh pesaing dari AS dan China.

Robot humanoid asal China, Flash. dok: Xinhua

Menggabungkan kepemimpinan Jepang dalam teknologi mekatronika dan robotika dengan keahlian AS di bidang AI akan menjadi kombinasi yang tak terkalahkan, kata Huang dalam acara pada hari Kamis.

“Kita harus bergerak cepat. Kita tidak boleh membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja,” urai dia.

Perdana Menteri Sanae Takaichi telah memperbarui upayanya untuk mendorong investasi di bidang AI dan robotika, dengan target pemerintah agar perusahaan-perusahaan Jepang mampu menguasai 30% pasar robotika AI global dan meraih pangsa industri sebesar ¥20 triliun atau US$123 miliar (setara Rp2.213 triliun) pada tahun 2040.

(bbn)

No more pages