Yen Melemah, Kasus Kebangkrutkan di Jepang Melonjak Tajam
News
02 July 2026 11:41

Erica Yokoyama dan Takahiko Hyuga - Bloomberg News
Bloomberg, Lemahnya nilai tukar mata uang Jepang telah memicu lonjakan kasus kebangkrutan tertinggi untuk paruh pertama tahun ini sejak 2022. Fenomena ini sekaligus menggarisbawahi kian besarnya beban ekonomi yang harus ditanggung akibat kemerosotan nilai tukar yen.
Berdasarkan laporan terbaru dari Tokyo Shoko Research pada hari Rabu (1/7), tercatat sebanyak 45 perusahaan bangkrut sepanjang periode Januari hingga Juni akibat pelemahan mata uang tersebut. Angka ini melonjak lebih dari 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadi yang tertinggi sejak 2022—tahun di mana lembaga riset data tersebut mulai mendata perusahaan-perusahaan yang secara spesifik pailit karena faktor pelemahan kurs.
Temuan ini mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan skala kecil, yang menampung sebagian besar tenaga kerja di Jepang, kini kian kesulitan untuk bertahan di tengah pelemahan yen yang berkepanjangan. Kondisi ini mulai membayangi prospek perekonomian nasional Jepang, meskipun di sisi lain para pelaku industri eksportir justru mendulang keuntungan besar.
Data ini juga memperkuat urgensi bagi Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) untuk terus melanjutkan tren kenaikan suku bunga acuan mereka. Walaupun kenaikan biaya pinjaman biasanya berisiko mendorong lebih banyak perusahaan menuju kebangkrutan, langkah mempersempit selisih suku bunga dengan bank sentral AS (The Fed) dinilai dapat membantu mendongkrak nilai tukar yen.































